Penelitian Tindakan Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

 

 

 

 

 

 

 

Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan

Kepala Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN

DIREKTORAT JENDERAL

PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

2010


SAMBUTAN

DIREKTUR JENDERAL

PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

 

 

Di dalam pelaksanaan program penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang merupakan agenda dari program 100 hari Mendiknas, Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) telah menyusun materi pelatihan untuk penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Di dalam pengembangan materi tersebut telah mengacu kepada standar kepala sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Direktorat Tenaga Kependidikan atas dihasilkannya materi penguatan kemampuan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi kepala sekolah.

Materi pelatihan ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi individu kepala sekolah dan lembaga yang terkait dalam penguatan kemampuan kepala sekolah di propinsi dan kabupaten/kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi terhadap program penguatan kepala sekolah dapat memperkaya dengan berbagai referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk mewujudkan kepala sekolah yang profesional dan akuntabel.

Semoga semua usaha kita untuk penguatan kemampuan kepala sekolah sesuai dengan standar kepala sekolah sebagaimana diamanahkan dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Kepala Sekolah/Madrasah dapat diwujudkan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang cerdas, kreatif, inovatif, berpikir kritis, cakap penyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan.

 

Jakarta, Januari 2010

Direktur Jenderal PMPTK

 

 

 

Prof. Dr. Baedhowi, M.Si

NIP. 19490828 197903 1 001

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Pada tahun 2007, Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK bekerjasama dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah berhasil merumuskan standar kepala sekolah/madrasah yang ditetapkan melalui Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Untuk mengoperasionalkan dan mengimplementasikan Permendiknas tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun materi pelatihan sesuai dengan masing-masing komponen kompetensi kepala sekolah yang diatur dalam Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Materi pelatihan yang telah disusun merupakan bagian dari rencana pelaksanaan program penguatan kepala sekolah, program kedua dari delapan program 100 hari Mendiknas. Program penguatan kemampuan kepala sekolah sangat penting mengingat peran strategis kepala sekolah di dalam proses peningkatan mutu pendidikan.

Kepala sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong guru untuk melakukan proses pembelajaran untuk mampu menumbuhkan berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan. Materi pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi peningkatan kompetensi kepala sekolah sesuai yang diamanahkan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Kami menyadari bahwa materi pelatihan masih jauh dari sempurna, namun kami perlu menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun yang telah berusaha dan berhasil menyiapkan materi pelatihan yang dapat dijadikan bahan bacaan bagi usaha peningkatan kompetensi kepala sekolah. Berbagai pihak yang terkait dengan penguatan kemampuan kepala sekolah dapat memperkaya dengan materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kompetensi kepala sekolah sesuai dengan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Semoga materi pelatihan ini bermanfaat bagi usaha penguatan kemampuan kepala sekolah di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

 

Jakarta, Januari 2010

Direktur Tenaga Kependidikan

Surya Dharma, MPA, Ph.D

19530927 197903 1 001

 

DAFTAR ISI

 

 

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN                                                                                                            1

KATA PENGANTAR

  1. Latar Belakang                                                                                                        1
    1. PENDAHULUAN 1
    2. Standar Kompetensi PTS                                                                                      2
    3. Deskripsi Materi Pelatihan                                                                                    2
    4. Langkah-langkah Mempelajari Materi Pelatihan                                                 2

 

KEGIATAN BELAJAR 1                                                                                               4

KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

  1. Pengantar                                                                                                                4
  2. Definisi PTS                                                                                                            5
  3. Tujuan PTS                                                                                                             5
  4. Ciri-Ciri PTS                                                                                                            6
  5. Etika dalam Melaksanakan PTS                                                                            6
  6. Perbedaan Penelitian Tindakan oleh Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, dan Guru     7
  7. Perbedaan PTS dengan Bukan PTS                                                                    9
  8. Langkah-langkah PTS                                                                                            10
  9. Latihan Kegiatan Belajar                                                                                       12
  10. Ringkasan                                                                                                                15
  11. Refleksi                                                                                                                    15

 

KEGIATAN BELAJAR 2

PENYUSUNAN PROPOSAL DAN LAPORAN PTS                                                   17

  1. Pendahuluan                                                                                                           17
  2. Latihan                                                                                                                     18
  3. Format Proposal PTS                                                                                            18
  4. Format Laporan PTS                                                                                              19
  5. Penjelasan Format Proposal dan Laporan PTS                                                 21
  6. Refleksi                                                                                                                    24

 

KEGIATAN BELAJAR 3                                                                                              

EVALUASI LAPORAN PTS                                                                                          26

  1. Cara Mengevaluasi Laporan PTS                                                                         26
  2. Refleksi                                                                                                                    28

 

Daftar Pustaka                                                                                                               30


PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang

Salah satu indikator kompetensi profesional adalah kompetensi pengembangan profesi. Satu di antara pengembangan profesi adalah kemampuan dalam bidang penelitian dan pengembangan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak kepala sekolah/madrasah yang perlu penguatan kemampuannya dalam bidang penelitian dan pengembangan. Sebagian dari mereka masih ada yang belum memahami bagaimana membuat proposal, melaksanakan, dan melaporkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dengan baik. Sebagian dari mereka ada yang sudah memahami tetapi belum melakukannya. Untuk mengatasi hal tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah melaksanakan sosialisasi dan bimbingan teknik PTS.

Sosialisasi dan bimbingan teknik PTS selama ini ternyata masih belum memadai untuk menjangkau seluruh kepala sekolah dalam waktu yang relatif singkat. Intensitas dan kedalaman penguasaan materi kurang dapat dicapai dengan kedua strategi ini karena terbatasnya waktu.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka upaya penguatan kompetensi kepala sekolah dilakukan melalui berbagai strategi. Salah satu strategi untuk menguatkan kemampuan kepala sekolah/madrasah adalah melaksanakan pelatihan.

Penguatan ini dimaksudkan dapat memberikan pemahaman, dan motivasi para kepala sekolah untuk menyelesaikan permasalahan di sekolahnya melalui metode ilmiah yang antara lain berupa PTS. Bila penyelesaian masalah di sekolah dibiasakan melalui PTS, maka kompetensi PTS kepala sekolah akan meningkat dan berimplikasi pada peningkatan kreativitas, inovasi, mampu menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan. Bahkan dampak lainnya pun akan meningkatan angka kredit kepala sekolah dalam proses kenaikan pangkat dan atau sertifikasi yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan.

 

 

  1. Standar Kompetensi PTS

Peserta pelatihan diharapkan mampu:

  1. Memahami konsep PTS,
  2. Menyusun proposal dan laporan PTS,
  3. Mengevaluasi laporan PTS,
  4. Membimbing guru dalam membuat PTK sebagai kegiatan pengembangan profesi guru.

 

  1. Deskripsi Materi Pelatihan

Materi pelatihan terdiri atas lima bagian yaitu

  1. dimensi kompetensi manajerial dengan materi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS),
  2. dimensi Kompetensi Kewirausahaan dengan materi Kewirausahaan;
  3. dimensi kompetensi supervisi dengan materi Supervisi Akademik dan Kepemimpinan Pembelajaran;
  4. PTS.

Materi pelatihan pada bagian ini dibatasi pada PTS yang meliputi kegiatan belajar:

  1.  Konsep PTS,
  2.  Penyusunan Proposal dan Laporan PTS, dan
  3.  Evaluasi Laporan PTS.

 

  1. Langkah-langkah Mempelajari Materi Pelatihan

Aktivitas Kelompok

Aktivitas Individu

Membaca Bahan Belajar

 Mediskusikan

Bahan Belajar

Melaksanakan Latihan/Tugas/ Studi Kasus

 Sharing Perma-salahan dan Hasil Pelaksanaan Latihan

Membuat Rangkuman

 Membuat Rangkuman

Melakukan Refleksi, Membuat Rencana Aksi (Action Plan)

Melakukan Refleksi.

Bahan belajar ini dirancang untuk dipelajari oleh kepala sekolah dalam pelatihan. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup aktivitas individual dan kelompok. Secara umum aktivitas individual meliputi: (1) membaca materi pelatihan, (2) melakukan latihan/tugas, mengatasi masalah/kasus pada setiap kegiatan belajar, (3) membuat rangkuman/kesimpulan, dan (4) melakukan refleksi, dan membuat rencana tindakan. Sedangkan aktivitas kelompok meliputi: (1) mendiskusikan materi pelatihan, (2) bertukar pengalaman dalam melakukan latihan/menyelesaikan masalah/kasus, (3) melakukan seminar/diskusi hasil latihan/tugas yang dilakukan, dan (4) bersama-sama melakukan refleksi, membuat rencana tindakan (action plan). Langkah-langkah tersebut dapat digambarkan seperti berikut.

Aktivitas Kelompok

Aktivitas Individu

Membaca Materi Pelatihan

 Mediskusikan

Materi Pelatihan

Melaksanakan Latihan/Tugas/ Studi Kasus

 Sharing Perma-salahan dan Hasil Pelaksanaan Latihan

Membuat Rangkuman

 Membuat Rangkuman

Melakukan Refleksi, Membuat Rencana Aksi (Action Plan)

Melakukan Refleksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan

Dari gambar di atas tampak bahwa aktivitas kelompok selalu didahului oleh aktivitas individu. Dengan demikian, maka aktivitas individu adalah hal yang utama. Sedangkan aktivitas kelompok lebih merupakan forum untuk berbagi, memberikan pengayaan, dan penguatan terhadap kegiatan belajar yang telah dilakukan individu masing-masing.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, diharapkan peserta pelatihan baik secara individu maupun bersama-sama dapat meningkatkan kompetensinya, yang pada gilirannya diharapkan berdampak pada peningkatan kompetensi guru yang dibinanya dan akhirnya mampu menghasilkan siswa yang kreatif, inovatif, mampu menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan.

 

 

 

 

 

KEGIATAN BELAJAR 1

KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

 

 

Selamat membaca dan mempelajari kegiatan belajar 1 tentang konsep PTS. Setelah mempelajari kegiatan belajar 1, Bapak/Ibu diharapkan memahami konsep PTS. Hasil pemahaman Bapak/Ibu terhadap konsep PTS dapat digunakan sebagai tahap awal untuk memperbaiki dan mengembangkan guru dan siswa agar mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan. Kepala sekolah akan berusaha kuat untuk memahami konsep PTS apabila ada kemauan dan spirit kuat untuk berubah ke arah yang lebih baik yaitu lebih maju dan lebih berkembang.

Bapak/Ibu akan mudah mempelajari dan mempraktikkan materi kegiatan belajar 1, jika ada kemauan yang kuat. Bukankah di mana ada kemauan di situ ada cara/jalan? Konsep PTS yang sudah Bapak/Ibu praktikkan dengan sukses melalui rencana tindakan akan menjadi contoh bagi guru dan siswa dalam rangka untuk mengubah pola pikir, pola sikap, dan pola tindak mereka agar mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan. Selamat belajar!

 

  1. Pengantar

Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dan pengelolaan sekolah, kepala sekolah dapat melakukan PTS sekaligus sebagai sarana pengembangan profesinya (Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru), PTS merupakan penelitian yang berawal dari permasalahan sekolah, diselesaikan melalui tindakan spesifik dari gagasan peneliti untuk menyelesaikan permasalahan sekolah. Dengan demikian, yang pertama harus ada dalam penelitian PTS bukanlah diawali dengan membuat judul tetapi diawali dengan menemukan adanya masalah dan tantangan-tantangan untuk melakukan pembaruan atau inovasi.

Masalah-masalah yang akan dirumuskan adalah masalah-masalah aktual yang penting dan mendesak. Jika masalah-masalah itu tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap sekolah. Oleh karena itu, diperlukan tindakan spesifik yang diyakini benar-benar dapat mengatasi masalah-masalah tersebut. Selain berangkat dari permasalahan, PTS juga dapat dilakukan untuk melaksanakan suatu pembaruan ataupun inovasi dalam berbagai aspek sekolah. Misalnya manajemen perubahan, inovasi pembelajaran, pengembangan kultur baru di sekolah, dan inovasi kepemimpinan pembelajaran.

Saat ini, penelitian paling banyak dilakukan oleh guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah adalah PTS. Penelitian tindakan yang dilakukan guru disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTS bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di sekolah. Sedangkan PTK bertujuan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran di kelas.

 

  1. Definisi PTS

PTS adalah penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti (umumnya juga praktisi) di sekolah untuk membuat peneliti lebih profesional terhadap pekerjaannya, memperbaiki praktik-praktik kerja, dan melakukan inovasi sekolah serta mengembangkan ilmu pengetahuan terapan (professional knowledge).

Berdasarkan definisi tersebut, maka ciri utama PTS adalah melakukan tindakan nyata untuk memperbaiki situasi atau melakukan inovasi sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran sehingga mampu menghasilkan siswa yang berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap dalam menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan.

 

  1. Tujuan PTS

Tujuan PTS adalah sebagai berikut.

  1. Memperbaiki situasi sekolah saat ini.
  2. Meningkatkan mutu input, proses, dan output sekolah.
  3. Mengembangkan inovasi input, proses, dan output sekolah.
  4. Meningkatkan kinerja sekolah yang terkait dengan mutu, inovasi, keefektifan, efisiensi, dan produkivitas sekolah.
  5. Meningkatkan kemampuan profesional sebagai kepala sekolah.
  6. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah.
  7. Membimbing guru dalam merencanakan, melaksanakan, melaporkan, dan menindaklanjuti hasil PTS.
  8. Mengembangkan ilmu terapan/praktis (professional knowledge).

 

  1. Ciri-ciri PTS

Ciri utama PTS adalah sebagai berikut.

  1. Adanya tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi.
  2. Bersifat kualitatif, meskipun dapat menggunakan data kuantitatif.
  3. Didasarkan pada masalah atau tantangan yang dihadapi kepala sekolah.
  4. Ada perubahan positif pada kepala sekolah dan sekolahnya.
  5. Penelitian dilakukan secara kolaboratif antara peneliti bersama warga sekolah baik guru, tenaga kependidikan, pengawas, siswa, maupun pihak-pihak lain yang terkait.
  6. Peneliti juga bertindak sebagai praktisi yang melakukan refleksi.
  7. Setiap siklus memiliki empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/evaluasi, dan refleksi.
  8. Jumlah siklus tergantung pencapaian tujuan PTS. Jika satu siklus belum mencapai tujuan maka dapat dilanjutkan pada siklus ke dua, dan seterusnya.
  9. Tidak ada rumusan hipotesis karena PTS tidak untuk menguji hipotesis.

 

  1. Etika dalam Melaksanakan PTS

Ketika melaksanakan PTS perlu memperhatikan etika antara lain sebagai berikut.

  1. Bersikap jujur yaitu tidak plagiat, tidak fiktif, tidak merubah data, dan menuliskan sumber referensi yang dikutip.
  2. Tidak boleh mengganggu tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah.
  3. Tidak boleh mengganggu proses pembelajaran dan tugas mengajar guru serta kegiatan pendidikan yang sedang berlangsung di sekolah.
  4. Jangan terlalu banyak menyita waktu dalam pengambilan data.
  5. Meminta ijin kepada orang-orang yang diteliti.
  6. Menjamin kerahasiaan data responden yang diteliti.

 

 

 

  1. Perbedaan Penelitian Tindakan oleh Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, dan Guru

Perbedaan penelitian tindakan oleh pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru adalah seperti Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Perbedaan Penelitian Tindakan oleh Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, dan Guru

Peneliti

Ruang Lingkup Penelitian

Subjek Penelitian

Aspek yang Diteliti

Pengawas

sekolah

Sekolah Pengawas Sekolah/

Kepala sekolah

 

 

  • Delapan Standar Nasional Pendidikan.
  • Tugas pokok dan fungsi pengawas sekolah/kepala sekolah.
  • Peranan pengawas sekolah/kepala sekolah.
  • Berpikir kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan Menyelesaikan masalah.
Guru

 

 

 

  • Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik.
  • Tugas pokok dan fungsi guru.
  • Peranan guru.
  • Berpikir kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Tenaga kependidikan

 

 

 

  • Standar Tenaga Administrasi, Standar Tenaga Laboratorium, Standar Tenaga Perpustakaan, dan Standar Tenaga Kependidikan lainnya.
  • Tugas pokok dan fungsi tenaga kependidikan.
  • Peranan tenaga kependidikan.
  •  Berpikir kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan menyelesaian masalah.
Kepala sekolah Sekolah Kepala Sekolah

 

 

 

 

 

  • Delapan Standar Nasional Pendidikan.
  • Tugas pokok dan fungsi kepala sekolah.
  • Peranan kepala sekolah.
  • Berpikir kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan menyelesaikan masalah
Guru

 

  • Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik.
  • Tugas pokok dan fungsi guru.
  • Peranan guru.
  • Berpikir kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Tenaga kependidikan

 

 

  • Standar Tenaga Administrasi, Standar Tenaga Laboratorium, Standar Tenaga Perpustakaan, dan Standar Tenaga Kependidikan lainnya.
  • Tugas pokok dan fungsi tenaga kependidikan.
  • Peranan tenaga kependidikan. .
  • Berpikir kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Siswa
  • Standar Kompetensi Lulusan.
  • Standar Penilaian.
  • Berpikir Kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Guru Kelas Guru

 

 

 

 

 

  • Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik.
  • Tugas pokok dan fungsi guru.
  • Peranan guru.
  • Berpikir kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Siswa
  • Standar Kompetensi Lulusan.
  • Standar Penilaian.
  • Kegiatan Kesiswaan.
  • Berpikir kritis, kreatif, inovatif, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan memecahkan masalah.

 

  1. Perbedaan PTS dengan Bukan PTS

Perbedaan antara PTS dengan bukan PTS sebagaimana Tabel 2 beikut.

 

Tabel 2. Perbedaan PTS dengan Bukan PTS

Aspek

PTS

Bukan PTS

Dilaksanakan oleh Praktisi yaitu kepala sekolah, pengawas sekolah. Teoretisi yaitu ilmuan di luar sekolah.
Tujuan penelitian Tidak untuk menguji teori tetapi untuk memecahkan masalah, menghadapi tantangan, memperbaiki situasi sekolah. Tidak ada hipotesis.

Tidak untuk solusi yang berlaku umum (tidak untuk membuat generalisasi).

Menguji teori melalui hipotesis dan atau mengembangkan pengetahuan baru.

 

Untuk membuat generalisasi.

Jenis data Kualitatif/dan atau kuantitatif Kualitatif/dan atau kuantitatif.
Maksud pengumpulan dan analisis data Menyelesaikan masalah praktis, mengarahkan rencana tindakan. Mendapatkan pemahaman terhadap gejala, dan menguji hipotesis.
Standar mutu penelitian Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan situasi, kondisi, dan kinerja sekolah. Hasil penelitian mampu memverifikasi teori.
Pemakai utama Warga sekolah. Ilmuwan, praktisi, birokrat, usahawan, dan masyarakat.

 

 

 

 

  1. Langkah-langkah PTS

Langkah-langkah PTS yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Langkah-langkah PTS seperti Gambar 1 berikut Catatan: Pengamatan dilanjutkan Evaluasi.

Pelaksanaan

Refleksi

Perencanaan

Pelaksanaan

Pengamatan  

Dan Evaluasi

Refleksi

Perencanaan

SIKLUS I

SIKLUS II

?

Pengamatan dan Evaluasi

Gambar 1. Langkah-langkah PTS

 

Siklus PTS meliputi empat langkah yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan evaluasi, serta refleksi. Masing-masing langkah dijelaskan sebagai berikut.

 

Perencanaan

Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan peneliti saat akan memulai tindakannya. Agar perencanaan mudah dipahami oleh peneliti yang akan melakukan tindakan, maka peneliti membuat rencana tindakan yang meliputi:

(a)    rumusan masalah yang akan dicari solusinya;

(b)    rumusan tujuan penyelesaian masalah/tujuan menghadapi tantangan/tujuan melakukan inovasi;

(c)    rumusan indikator keberhasilan pemecahan penyelesaian masalah/keberhasilan menghadapi tantangan/keberhasilan melakukan inovasi;

(d)    rumusan langkah-langkah kegiatan penyelesaian masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan inovasi;

(e)    identifikasi warga sekolah dan atau pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi;

(f)     identifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan;

(g)    penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi;

(h)   penentuan waktu dan tempat pelaksanaan;

(i)     idenifikasi fasilitas yang diperlukan.

 

Pelaksanaan (Tindakan)

Pelaksanaan adalah penerapan dari perencanaan. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh peneliti adalah sebagai berikut.

(a)    Apakah ada kesesuaian antara rencana tindakan dengan pelaksanaannya?

(b)    Hal-hal apa yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi?

(c)    Bagaimana cara melaksanakan tindakan untuk memecahkan masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi?

(d)    Apakah tindakan yang dilaksanakan telah terarah pada pencapaian tujuan penelitian?

(e)    Seberapa besar pelaksanaan tindakan melibatkan warga sekolah dan atau pihak-pihak terkait lainnya?

(f)     Apa peran masing-masing warga sekolah dan atau pihak-pihak terkait lainnya dalam melaksanakan tindakan?;

 

Pengamatan dan Evaluasi

Pengamatan adalah pencermatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hal-hal yang diamati adalah proses tindakan yang berlangsung selama tahap pelaksanaan PTS. Pengamatan menggunakan instrumen yang berisi indikator-indikator proses tindakan. Evaluasi adalah proses penetapan hasil pelaksanaan tindakan berdasarkan indikator-indikator tujuan PTS yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk melakukan refleksi.

 

Refleksi

Refleksi dilakukan terhadap proses dan hasil pelaksanaan tindakan dan hasilnya digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki rencana tindakan pada siklus berikutnya untuk meningkatkan hasil yang lebih baik.

  1. Latihan Kegiatan Belajar 1

Tugas Kelompok

1.    Pilih salah satu topik berikut (sesuai pembagian kelompok)

a.    Manajemen sekolah.

b.    Kepemimpinan pembelajaran.

c.    Supervisi akademik.

d.    Kultur sekolah/ moralitas sekolah.

e.    Kewirausahaan dalam rangka mendukung pembelajaran.

f.     Pengembangan profesionalisme guru.

g.    Pengembangan kreativitas kepala sekolah, guru, dan siswa.

h.    Kurikulum dan implementasinya.

i.     Pengembangan inovasi pengelolaan sekolah, kelas, dan pembelajaran.

j.     Pengembangan sistem evaluasi pembelajaran.

k.    Berpikir kritis kepala sekolah, guru, dan siswa.

l.     Penyelesaian masalah oleh kepala sekolah, guru, dan siswa.

 

2.    Diskusikan topik tersebut, rumuskan jawaban setiap butir pertanyaan di bawah ini dan tuliskan pada kolom yang telah disediakan.

a.    Alur Berpikir :

1)     Tulislah masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapi kepala sekolah ketika melaksanakan tugas sesuai dengan topik yang dibahas.

 

 

 

 

 

 

2)     Pilihlah salah satu masalah (butir 1.a.) yang paling penting dan segera diselesaikan masalahnya.

 

 

 

 

 

3)     Berikan alasan mengapa masalah tersebut penting dan segera diselesaikan masalahnya!

 

 

 

 

 

 

4)     Kemukakan faktor-faktor yang menyebabkan muculnya masalah tersebut!

 

 

 

 

 

 

5)     Rumuskan alternatif-alternatif penyelesaian masalah dan pilihlah salah satu alternatif yang terbaik!

1. Alternatif-alternatif penyelesaian masalah:

 

 

 

 

 

2. Alternatif yang terbaik:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.    Kerangka Kerja

Siklus 1

1.    Rencana Tindakan (berisi rumusan masalah dan rencana solusinya)

 

 

 

 

 

 

2.   Pelaksanaan Tindakan (catatan: dalam pelatihan ini, tahap ini baru latihan/exercise)

 

 

 

 

 

3.    Pengamatan/Pengumpulan Data, Evaluasi Proses dan Hasil Tindakan (catatan: dalam pelatihan ini, tahap ini baru latihan/exercise)

Isilah format pengamatan untuk mengamati proses tindakan dalam siklus PTS berikut ini!

 

No.

Aspek yang diamati

Data pendukung

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.    Refleksi (catatan: dalam pelatihan ini, tahap ini baru latihan/exercise)

 

 

 

 

Jika masalah belum terselesaikan, rumuskan rencana siklus 2, 3, dan seterusnya hingga masalah terselesaikan     

 

  1. Ringkasan

PTS adalah penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti (umumnya juga praktisi) di sekolah untuk membuat peneliti lebih profesional terhadap pekerjaannya, memperbaiki praktik-praktik kerja, dan melakukan inovasi sekolah serta mengembangkan ilmu pengetahuan terapan (professional knowledge). Langkah-langkah PTS perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan evaluasi, refleksi.

 

  1. Refleksi

Mohon untuk mengisi lembar refleksi di bawah ini berdasarkan materi pelatihan yang Bapak/Ibu sudah pelajari.

 

 

Nama: _____________________     Tanggal: _______________

 

•      Kegiatan apa saja yang telah saya lakukan di sekolah yang pada prinsipnya mendekati/sesuai dengan kerangka pikir materi pelatihan ini?

 

 

 

 

•      Hal-hal apa saja yang sudah saya pahami terkait dengan materi pelatihan ini?

 

 

 

 

•      Apa saja yang telah saya lakukan yang ada hubungannya dengan materi kegiatan ini tetapi belum ditulis pada materi pelatihan ini?

 

 

 

 

•      Manfaat apa saja yang saya peroleh dari materi pelatihan ini untuk menunjang keberhasilan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah?

 

 

 

 

•      Langkah-langkah apa saja yang perlu ditempuh untuk menerapkan materi pelatihan ini dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah saya?

 

Selamat karena Bapak/Ibu telah selesai mempelajari kegiatan belajar ini. Selanjutnya, selamat melakukan rencana tindakan. Untuk menambah pengetahuan, Bapak/Ibu dimohon untuk mempelajari kegiatan belajar berikutnya.

 

KEGIATAN BELAJAR 2

 PENYUSUNAN PROPOSAL DAN LAPORAN PTS

 

Selamat membaca dan mempelajari kegiatan belajar 2 tentang penyusunan dan laporan PTS. Setelah mempelajari kegiatan belajar 1, Bapak/Ibu diharapkan memahami penyusunan dan laporan PTS. Hasil pemahaman Bapak/Ibu tentang penyusunan dan laporan PTS dapat digunakan sebagai tahap awal untuk memperbaiki dan mengembangkan guru dan siswa agar mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan. Kepala sekolah akan berusaha kuat untuk memahami penyusunan dan laporan PTS apabila ada kemauan dan spirit kuat untuk berubah ke arah yang lebih baik yaitu lebih maju dan lebih berkembang.

Bapak/Ibu akan mudah mempelajari dan mempraktikkan materi kegiatan belajar 2, jika ada kemauan yang kuat. Bukankah di mana ada kemauan di situ ada cara/jalan? Penyusunan dan laporan PTS yang sudah Bapak/Ibu praktikkan dengan sukses melalui rencana tindakan akan menjadi sarana untuk membimbing guru dalam menyusun dan melaporkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Selamat belajar!

 

  1. Pendahuluan

Penilaian Awal diri sendiri: Berilah tanda (V) pada pertanyaan di bawah ini.

Tabel 1. Penilaian Tahap 1 (Awal) sampai Tahap 8 (Akhir)

Tahap-tahap

1

2

3

4

5

6

7

8

Saya belum pernah melihat proposal PTS, apalagi menyusun-nya. Saya sudah pernah melihat proposal PTS tetapi belum tahu menyusun-nya Saya pernah menyu-sun propo-sal PTS Saya mampu mengajar orang lain menyusun proposal PTS. Saya belum pernah melihat Laporan PTS apalagi menyusun-nya. Saya sudah pernah melihat laporan PTS tetapi belum tahu menyusun-nya. Saya pernah menyu-sun laporan PTS Saya mampu menga-jar orang lain menyu-sun laporan PTS.

 

 

 

 

Hasil

Jika Anda mempelajari kegiatan belajar 2 ini, Anda diharapkan mampu:

  1. Menyusun proposal PTS,
  2. Menyusun laporan PTS,
  3. Membimbing guru tentang cara menyusun proposal PTK,
  4. Membimbing guru tentang cara menyusun laporan PTK.

 

  1. Latihan

Tugas 1

Urutkan sistematika Bab I proposal PTS berikut ini !

 

Latar Belakang

Tujuan Penelitian

Definisi Istilah

Pembatasan Masalah (Fokus Penelitian)

Rumusan Masalah

Identifikasi Masalah

Manfaat Penelitian

Kajian Pustaka

 

Tugas 2

Tugas Kelompok

Bentuk kelompok sekitar 5 atau 10 orang.

Diskusikan sistematika yang telah Anda susun di kelompok masing-masing.

Hasil diskusi disajikan. Kelompok lain dan fasilitator memberi komentar yang konstruktif.

 

  1. Format Proposal PTS

Langkah awal sebelum melakukan PTS adalah menyusun proposal. Proposal PTS adalah rencana penelitian tindakan yang akan digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan PTS. Jika proposal disusun dengan benar maka pelaksanaan PTS akan terarah sesuai dengan tujuan akan dicapai. Jika proposal salah maka pelaksanaan PTS pun akan salah pula. Oleh sebab itu, proposal harus disusun dengan benar agar pelaksanaan PTS dapat mencapai tujuan.

 

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

B.    Identifikasi Masalah (jika diperlukan)

C.   Pembatasan Masalah (Fokus Penelitian) (jika diperlukan)

D.   Rumusan Masalah

E.    Tujuan Penelitian

F.    Manfaat Penelitian

G.   Definisi Istilah (jika diperlukan)

 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.    Deskripsi Sekolah

B.    Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan (jika diperlukan)

C.   Usulan-usulan tentang penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi.

 

BAB III METODE PENELITIAN

A.    Pentahapan Penelitian Tindakan

B.    Lokasi dan Waktu Penelitian

C.   Subjek Penelitian

D.   Tindakan

E.    Teknik Pengumpulan Data

F.    Instrumen Penelitian (jika diperlukan)

G.   Teknik Analisis Data

 

  1. Format Laporan PTS

BAB I PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

B.     Identifikasi Masalah (jika diperlukan)

C.     Pembatasan Masalah (Fokus Penelitian) (jika diperlukan)

D.     Rumusan Masalah

E.     Tujuan Penelitian

F.     Manfaat Penelitian

G.     Definisi Istilah (jika diperlukan)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.     Deskripsi Sekolah

B.     Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan

C.     Usulan-usulan tentang penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi.

BAB III METODE PENELITIAN

A.     Pentahapan Penelitian Tindakan

B.     Lokasi dan Waktu Penelitian

C.     Subjek Penelitian

D.     Tindakan

E.     Teknik Pengumpulan Data

F.     Instrumen Penelitian (jika diperlukan)

G.     Teknik Analisis Data

BAB IV SIKLUS TINDAKAN

A.     Siklus/tahap 1

1.    Perencanaan

2.    Pelaksanaan

3.    Pengamatan dan Evaluasi

4.    Refleksi

B.    Siklus/tahap 2 (jika diperlukan)

C.   Siklus/tahap 3 (jika diperlukan)

D.   Siklus/tahap 4 (jika diperlukan)

Keterangan: setiap siklus harus ada tujuan yang akan dicapai, tindakan untuk mencapai tujuan, hasil atas tindakan yang dilakukan pada setiap siklus, isu-isu/tema-tema yang muncul dari setiap siklus serta kaitannya dengan praktik-praktik sebelumnya, dan apa implikasinya bagi tindakan untuk siklus berikutnya. Jumlah siklus relatif, tergantung ketercapaian tujuan penelitian.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A.     Simpulan

B.     Saran

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

 

  1. Penjelasan Format Proposal dan Laporan PTS

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Berisikan uraian singkat situasi nyata sekolah, situasi sekolah yang diharapkan, dan pentingnya PTS dilakukan.

B.    Identifikasi Masalah (jika diperlukan)

Berisikan masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi sekolah.

Contoh masalah : Rendahnya motivasi kerja guru.

Contoh tantangan: Perubahan dari cara mengajar konvensional menuju cara mengajar inovatif (PAIKEM, Pembelajaran Kontekstual, lesson study).

  1. Pembatasan Masalah (Fokus Penelitian) (jika diperlukan)

Berisikan pilihan salah satu atau lebih dari masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang tercantum dalam indentifikasi masalah yang akan dijadikan fokus PTS.

  1. Rumusan Masalah

Berisikan rumusan masalah yang ditulis dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan berdasarkan pembatasan masalah.

  1. Tujuan Penelitian

Berisikan pernyataan tentang perubahan yang diharapkan dari hasil PTS.

 

  1. Manfaat Penelitian

Berisikan pernyataan tentang manfaat PTS bagi kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, dan sekolah pada umumnya serta pengembangan ilmu praktis/aplikatif.

G.    Definisi Istilah (jika diperlukan)

Berisikan penjelasan istilah-istilah/kata-kata kunci yang tercantum dalam judul PTS.

Contoh judul, “Upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui kepemimpinan pembelajaran di SD 1 Klaten”.

Definisi istilah:

Hasil belajar adalah …………………………………………………….

Kepemimpinan pembelajaran adalah ……………………………….

 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

  1. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan

Berisikan uraian situasi nyata sekolah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, teori-teori, dan hasil penelitian yang relevan untuk menyelesaikan masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi.

  1. Usulan-usulan tentang penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi

Berisikan tentang usulan tindakan yang meliputi jenis tindakan, dan cara melaksanakan untuk mencapai hasil tindakan yang diharapkan seperti yang tertulis pada tujuan PTS.

 

BAB III METODE PENELITIAN

  1. Pentahapan Penelitian Tindakan

Berisikan langkah-langkah PTS meliputi penyusunan proposal, penyusunan instrument (jika diperlukan), pengumpulan data, analisis data, penyusunan laporan, dan penyajian laporan PTS warga sekolah.

  1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Berisikan tempat dan jadwal pelaksanaan PTS.

  1. Subjek Penelitian

Berisikan subjek yang diteliti misalnya kepala sekolah (dirinya sendiri), guru, tenaga kependidikan, dan siswa.

  1. Tindakan

Berisikan tindakan nyata untuk melakukan perubahan dari situasi nyata sekolah menuju situasi sekolah yang diharapkan dengan cara menyelesaikan masalah/ menghadapi tantangan/melakukan inovasi.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Berisikan cara mengumpulkan data melalui pengamatan langsung. Pengamatan dapat juga dilakukan secara partisipatif (jika diperlukan).

  1. Instrumen Penelitian (jika diperlukan)

Berisikan instrumen pengamatan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data (jika diperlukan). Instrumen pengamatan berisi tentang proses dan hasil tindakan.

  1. Teknik Analisis Data

Berisikan analisis deskriptif tentang perubahan dari situasi nyata sekolah menuju situasi sekolah yang diharapkan sehingga dapat diketahui tingkat ketercapaian tujuan PTS.

 

BAB IV SIKLUS TINDAKAN

Uraian masing-masing siklus dapat dilihat pada kegiatan belajar 1.

Setiap siklus harus ada tujuan yang akan dicapai, tindakan untuk mencapai tujuan, hasil atas tindakan yang dilakukan pada setiap siklus, isu-isu/ tema-tema yang muncul dari setiap siklus serta kaitannya dengan praktik-praktik sebelumnya, dan apa implikasinya bagi tindakan untuk siklus berikutnya. Jumlah siklus relatif, tergantung ketercapaian tujuan penelitian.

 

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan

Berisikan jawaban terhadap rumusan masalah.

  1. Saran

Berisikan tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Berisikan referensi yang dikutip saja. Cara menulis referensi lihat daftar pustaka pada materi pelatihan ini (di halaman terakhir).

LAMPIRAN

Berisikan tabel, gambar, foto, dan dokumentasi yang relevan dengan data yang dikumpulkan. Lampiran diberi nomor urut jika lebih dari dua buah.

Tuliskan lampiran yang dimaksud pada data yang ditemukan di Bab IV.

 

  1. Refleksi

Mohon untuk mengisi lembar refleksi di bawah ini berdasarkan materi pelatihan yang Bapak/Ibu sudah pelajari.

Nama: _____________________     Tanggal: _______________

•      Kegiatan apa saja yang telah saya lakukan di sekolah yang pada prinsipnya mendekati/sesuai dengan kerangka pikir materi pelatihan ini?

 

 

 

 

 

 

•      Hal-hal apa saja yang sudah saya pahami terkait dengan materi pelatihan ini?

 

 

 

 

 

 

•      Apa saja yang telah saya lakukan yang ada hubungannya dengan materi kegiatan ini tetapi belum ditulis pada materi pelatihan ini?

 

 

 

 

 

 

•      Manfaat apa saja yang saya peroleh dari materi pelatihan ini untuk menunjang keberhasilan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah?

 

 

 

 

 

•      Langkah-langkah apa saja yang perlu ditempuh untuk menerapkan materi pelatihan ini dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah saya?

 

 

 

 

 

 

Selamat karena Bapak/Ibu telah selesai mempelajari kegiatan belajar ini. Selanjutnya, selamat melakukan rencana tindak lanjut. Untuk menambah pengetahuan, Bapak/Ibu dimohon untuk mempelajari kegiatan belajar berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEGIATAN BELAJAR 3

 EVALUASI LAPORAN PTS

 

Selamat membaca dan mempelajari kegiatan belajar 3 tentang evaluasi laporan PTS. Setelah mempelajari kegiatan belajar 3, Bapak/Ibu diharapkan memahami cara mengevaluasi laporan PTS yang pada akhirnya dapat membimbing dan menggerakkan guru cara mengevaluasi PTS. Kepala sekolah hanya akan berusaha untuk memahami dan mampu mengevaluasi PTS jika ada komitmen yang kuat untuk berubah dan mengetahui bahwa ia akan mendapatkan pengakuan atau penghargaan sewajarnya.

Bapak/Ibu akan mudah mempelajari dan mempraktikkan materi kegiatan belajar 3, jika ada kemauan yang kuat. Bukankah, di mana ada kemauan di situ ada jalan? Evaluasi laporan PTS yang sudah Bapak/Ibu praktikkan dengan sukses, akan menjadi contoh bagi guru untuk mengevaluasi laporan PTS-nya. Selamat belajar!

 

Kegiatan Belajar 3

 

  1. Cara Mengevaluasi Laporan PTS

Evaluasi laporan PTS Anda dengan cara memberi tanda centang (V) pada kolom yang tersedia pada tabel berikut ini.

Lembar Evaluasi Laporan PTS

Beri tanda centang (V) pada kolom yang disediakan

No Aspek yang dievaluasi Tidak Layak Kurang Layak Cukup Layak Layak
  BAB I PENDAHULUAN        
A. Latar Belakang        
B. Identifikasi Masalah (jika diperlukan)        
C. Pembatasan Masalah (Fokus Penelitian) (jika diperlukan)        
D. Rumusan Masalah        
E. Tujuan Penelitian        
F. Manfaat Penelitian        
G. Definisi Istilah (jika diperlukan)        
   

 

       
  BAB II KAJIAN PUSTAKA        
A. Deskripsi Sekolah        
B. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan        
C. Usulan-usulan tentang penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan inovasi        
  BAB III METODE PENELITIAN        
A. Pentahapan Penelitian Tinadkan        
B. Lokasi dan Waktu Penelitian        
C. Subjek Penelitian        
D. Tindakan        
E. Teknik Pengumpulan Data        
F. Instrumen Penelitian (jika diperlukan)        
G. Teknik Analisis Data        
  BAB IV SIKLUS TINDAKAN        
A. Siklus/tahap 1        
  1. Perencanaan

2. Pelaksanaan

3. Pengamatan dan Evaluasi

4. Refleksi

       
B. Siklus/tahap 2 (jika diperlukan)        
C. Siklus/tahap 3 (jika diperlukan)        
D. Siklus/tahap 4 (jika diperlukan)        
  BAB V SIMPULAN DAN SARAN        
A. Simpulan        
B. Saran        
  LAMPIRAN        
  DAFRAT PUSTAKA

Bahasa yang digunakan (mudah dipahami)

       

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Refleksi

Nama: _____________________     Tanggal: _______________

 

•      Kegiatan apa saja yang telah saya lakukan di sekolah yang pada prinsipnya mendekati/sesuai dengan kerangka pikir materi pelatihan ini?

 

 

 

 

 

•      Hal-hal apa saja yang sudah saya pahami terkait dengan materi pelatihan ini?

 

 

 

 

 

•      Apa saja yang telah saya lakukan yang ada hubungannya dengan materi kegiatan ini tetapi belum ditulis pada materi pelatihan ini?

 

 

 

 

 

•      Manfaat apa saja yang saya peroleh dari materi pelatihan ini untuk menunjang keberhasilan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah?

 

 

 

 

 

 

 

•      Langkah-langkah apa saja yang perlu ditempuh untuk menerapkan materi pelatihan ini dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah saya?

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Glikman, C.D., Gordon, S.P., & Gordon, J.M.R. 2007. Supervision and Instructional Leadrship A Developmental Approach. Seventh Edition. New York: Pearson Education, Inc.

Hopkins, D. 2008. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Fourh Edition. Kondon: McGraw Hill.

Mills, G.E. 2003. Action Research A Guide for The Teacher Research. Second Edition. Upper Saddle River, New Jersey: Merrill Prentice Hall.

Stringer, E. 2004. Action Research in Education. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Merrill Prentice Hall.

Tomlinson, H. 2005. Educational Leadership Personal Grwoth for Profesional Development. London: Sage.

 

 

BACAAN YANG DIANJURKAN

 

Creswell, J. 2008. Educational Research: Quantitative & Qualitative. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson International Edition.

Husaini Usman. 2009. Pengantar Penelitian Sosial. Edisi Ketiga. Jakarta: Bumi Aksara.

Kemmis and McTaggart (1994) The Action Research Planner, Dekain University

McNiff, J., & Whitehead, J. 2002. Action Research: Principle and Practice. Second Edition. London: Routledge Falmer.

Suhardjono, A. Azis Hoesein, dkk (1995). Pedoman penyusunan KTI di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Digutentis, Jakarta : Diknas

Suhardjono. 2005. Laporan Penelitian Eksperimen dan Penelitian Tindakan Kelas sebagai KTI, makalah pada Pelatihan Peningkatan Mutu Guru di LPMP Makasar, Maret 2005

Suhardjono. 2009. Tanya jawab tentang PTK dan PTS, naskah buku.

Suharsimi, Arikunto. 2002. Penelitian Tindakan Kelas, Makalah pada Pendidikan dan Pelatihan (TOT) Pengembangan Profesi bagi Jabatan Fungsionla Guru, 11-20 Juli 2002 di Balai penataran Guru (BPG) Semarang.

Suharsimi, Suhardjono dan Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi Aksara

Supardi. 2005. Penyusunan Usulan, dan Laporan Penelitian Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disampaikan pada “Diklat Pengembangan Profesi Widyaiswara”, Ditektorat Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Judul PTS ku

  • “Pembinaan Supervisi Akademik melalui Observasi Class dan Individual Conference dan Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Di SDN Leuwimunding III Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka.
    Mengingat luasnya ruang lingkup masalah yang harus dipecahkan, maka untuk kegiatan pembinaan dilaksanakan dengan pembinaan dilaksanakan dengan beberapa tahapan atau beberapa siklus. Pelaksanaan pembinaan ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan dengan tujuan mempermudah penyusunannya dan secara rinci masalah tersebut dapat dijabarkan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
    1) Apakah administrasi pembelajaran dibuat oleh setiap guru ?
    2) Bagaimana tingkat kesesuaian antara RPP dengan pelaksanaan pembelajaran ?
    3) Langkah-langkah apa yang harus ditempuh dalam perbaikan pembelajaran menuju kualitas yang diharapkan ?

 

  • Upaya meningkatkan motivasi dan kemampuan guru membuat study kasus sebagai upaya perbaikan mutu pendidikan di sekolah!

 

 

 

 

Paket PTS

  1. Penyusunan proposal PTS
  2. Pelaksanaan PTS oleh Pengawas pada sekolah binaan
  3. Penulisan Laporan hasil PTS
  4. Penulisan artikel ilmiah

PTS BAGI PENGAWAS SEKOLAH

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH BAGI PENGAWAS SEKOLAH

A.        PENGANTAR

Ada enam dimensi kompetensi pengawas satuan pendidikan yang telah disyahkan oleh BSNP dengan Peraturan Menteri No. 12 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pengawas. Ke enam dimensi kompetensi tersebut adalah kompetensi kepribadian, kompetensi social, kompetensi supervise manajerial, kompetensi supervise akademik, kompetensi evaluasi pendidikan dan kompetensi penelitian pengembangan.

Pada bulan November tahun 2006 bersamaan dengan uji publik standar kualifikasi dan kompetensi pengawas satuan pendidikan yang dilaksanakan BSNP di 33 propinsi, Direktorat Tenaga kependidikan melaksanakan uji coba tes kompetensi pengawas pendidikan menengah dengan mengunakan instrumen uji kompetensi yang telah disusun berdasarkan enam dimensi kompetensi di atas. Hasil uji coba tes kompetensi pengawas satuan pendidikan menunjukkan bahwa secara nasional nilai rata-rata penguasaan kompetensi pengawas satuan pendidikan adalah 39,55 dari maksimum skor 70 atau baru mencapai 56,50 %. Penguasaan kompetensi tersebut dinilai masih rendah sebab belum mencapai 69 %. Khusus untuk pengawas pendidikan menengah nilai rata-ratanya mencapai 39,74 artinya sedikit berada di atas rata-rata nasional (39,74 > 39,55).

Dari enam dimensi kompetensi pengawas satuan pendidikan, ada tiga dimensi kompetensi yang nilainya di bawah nilai rata-rata keseluruhan kompetensi. Ketiga kompetensi tersebut adalah kompetensi supervisi manajerial (37,18), kompetensi supervisi akademik (36,30) dan kompetensi penelitian dan pengembangan (38,15).

Penelitian dan pengembangan merupakan salah satu kegiatan pengembangan profesi yang dapat dilakukan oleh pengawas.

Terdapat lima macam kegiatan pengembangan profesi yang dapat dilakukan pengawas yaitu :

  1. Melaksanakan kegiatan penelitian tindakan sekolah dalam bidang pendidikan/ kepengawasan ;
  2. Menyusun pedoman pelaksanaan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial
  3. Menyusun petunjuk teknis pelaksanaaan tugas pokok dan fungsi pengawas;
  4. Menciptkan karya seni;
  5. Menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan dan kepengawasan..

Semua unsur pengembangan profesi memerlukan kemampuan dalam bidang penelitian dan pengembangan. Terlebih lagi kegiatan pengembangan profesi yang pertama yakni melaksanakan kegiatan penelitian tindakan sekolah dalam bidang pendidikan/ kepengawasan. Kegiatan ini sangat penting bagi pengawas mengingat penelitian tindakan sekolah bagi pengawas berfungsi ganda. Pertama berfungsi untuk kepentingan penembangan profesi dan kepentingan tugas pokok kepengawasan.

B.        SUBSTANSI PENELITIAN TINDAKAN KEPENGAWASAN

Ada 3 aspek yang perlu disepakati yaitu : (1). Kajian kepengawasan sebagai dasar dalam menentukan tema dan judul serta perumusan masalah penelitian tindakan kepengawasan, (2) hakekat penelitian tindakan yang direfleksikan dalam penyusunan proposal PTS, pelaksanaan PTS serta (3) kesepakatan bersama atas beberapa petunjuk teknis.

Tugas pokok pengawas sebagai dasar dalam menentukan tema/atau judul atau masalah penelitian tindakan kepengawasn adalah sebagai berikut:

a.   Kegiatan memantau :

–   Supervisi akademik:   1. Pelaksanaan pembelajaran/bimbingan dan hasil belajar siswa

2. Keterlaksanaan kurikulum tiap mata pelajaran

–   Supervisi manajerial:   1. Pelaksanaan ujian nasional PSB dan ujian sekolah

2. Pelaksanaan standar nasional pendidikan

 

b.   Kegiatan menilai :

–   Supervisi akademik:   Kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran/bimbingan

–   Supervisi manajerial:   Kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok fungsi dan tanggung jawabnya.

c.   Kegiatan membina :

–   Supervisi akademik:   1.  Guru dalam menyusun silabus dan RPP

2.  Guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas/laboratorium/lapangan

3.  Guru dalam membuat, mengelola dan menggunakan media pendidikan dan pembelajaran

4.  Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan

5. Guru dalam mengolah dan menganalisis data hasil penilaian

6. Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas

–   Supervisi manajerial:   1. Kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi sekolah

2. Kepala sekolah dalam mengkoordinir pelaksanaan program bimbingan knseling

d.   Kegiatan melaporkan dan tindak lanjut.

–   Supervisi akademik:   1.  Hasil pengawasan akademik pada sekolah-sekolah yang menjadi binaanya

2.  Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan akademik untuk meningkatkan kemampuan profesional guru

–   Supervisi manajerial:   1.  Hasilpengawasan manajerial pada sekolah-sekolah binaanya

2.  Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan manajerial untuk menngkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan.

C.  PENELITIAN TINDAKAN KEPENGAWASAN

Penelitian tindakan kepengawasan adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan oleh pengawas satuan pendidikan dalam melaksanakan tugas-tugas kepengawasan pada sekolah binaannya.

Tujuan : untuk memecahkan masalah dan atau model pemecahan masalah dalam melaksanakan pengawasan di sekolah-sekolah binaannya.

Model penelitiannya menempuh langkah : perencanaan tindakan – tindakan – observasi/pengamatan – refleksi.

Masalah pokok pengawasan mencakup masalah pengawasan akademik dan masalah pengawasan manajerial yang dihadapi pengawas dalam sekolah-sekolah binaannya.

Adapun langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pengawas dalam melakukan penelitian tindakan kepengawasan adalah sebagai berikut :

  1. Penyusunan proposal PTS
  2. Pelaksanaan PTS oleh Pengawas pada sekolah binaan
  3. Penulisan Laporan hasil PTS
  4. Penulisan artikel ilmiah

 

disadur dari: http://jeperis.wordpress.com/2009/03/23/penelitian-tindakan-sekolah-bagi-pengawas-sekolah/#comment-1672

PTS – PTS GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAPAT MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA GURU

GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL

DAPAT MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA GURU

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.        Latar Belakang Penelitian

Pendidikan adalah salah satu factor penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, kita mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik agar mereka mampu menyerap, menilai dan mengembangkan secara mandiri ilmu yang dipelajarinya.

Saat ini dunia pendidikan nasional Indonesia berada dalam situasi “kritis” baik dilihat dari sudut internal kepentingan pembangunan bangsa, maupun secara eksternal dalam kaitan dengan kompetisi antar bangsa. Fakta menunjukkan bahwa, kualitas pendidikan nasional masih rendah dan jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain. Berbagai kritikan tajam yang berasal dari berbagai sudut pandang terus ditujukan kepada dunia pendidikan nasional dengan berbagai alasan dan kepentingan.

Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di tingkat operasional, guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional, instruksional, dan eksperiensial.. Sejalan dengan tugas utamanya sebagai pendidik di sekolah, guru melakukan tugas-tugas kinerja pendidikan dalam bimbingan, pengajaran, dan latihan. Semua kegiatan itu sangat terkait dengan upaya pengembangan para peserta didik melalui keteladanan, penciptaan lingkungan pendidikan yang kondusif, membimbing, mengajar, dan melatih peserta didik. Dengan perkembangan dan tuntutan yang berkembang dewasa ini, peran-peran guru mengalami perluasan yaitu sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi peserta didik untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sebagai latihan untuk mencapai hasil pembelajaran optimal.. Sebagai konselor, guru menciptakan satu situasi interaksi di mana peserta didik melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dengan memperhatikan kondisi setiap peserta didik dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru mengelola keseluruhan kegiatan pembelajaran dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar melalui interaksinya dengan peserta didik. Sebagai pemimpin, guru menjadi seseorang yang menggerakkan peserta didik dan orang lain untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang efektif. Sebagai pembelajar, guru secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru secara kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugasnya.

Keberhasilan dan kegagalan pencapaian tujuan sekolahan sangat bergantung pada faktor kepemimpinan dalam hal ini kepala sekolah. Untuk itu, dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan kegiatan orang untuk mempengaruhi orang lain dalam suatu sekolahan baik sekolahan negeri maupun sekolahan swasta.

Dalam mengelola sekolah, kepala sekolah memiliki peran yang sangat besar. Kepala Sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan menuju sekolah dan pendidikan secara luas. Sebagai pengelola institusi satuan pendidikan, kepala sekolah dituntut untuk selalu meningkatkan efektifitas kinerjanya. Untuk mencapai mutu sekolah yang efektif, kepala sekolah dan seluruh stakeholders harus bahu membahu kerjasama dengan penuh kekompakan dalam segala hal.

Kepala Sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang dalam kinerjanya selalu membuka diri dari pengaruh guru dan karyawan lainnya dalam persoalan penting. Lewis (1987) menjelaskan kepemimpinan yang efektif ialah mereka yang dapat beradaptasi dengan situasi bervariasi yang akan menentukan keberhasilan pimpinan. Kepemimpinan yang berorientasi kepuasan personal seringkali disukai bawahan. Oleh karenanya, modal kepala sekolah yang utama adalah perlunya kepala sekolah memiliki pengetahuan kepemimpinan baik perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan suatu program sekolah dan pendidikan secara luas. Selain itu kepala sekolah harus menunjukkan sikap kepedulian, semangat bekerja, disiplin tinggi, keteladanan dan hubungan manusiawi dalam rangka perwujudan iklim kerja yang sejuk dan kondusif.

Kepala Sekolah selaku top manager sekolah dalam rangka meningkatkan proses belajar mengajar senantiasa check and recheck program yang dijalankan oleh para guru. Hal ini dapat dilakukan dengan supervisi kelas, membina dan memberi saran-saran positif kepada guru dan karyawannya. Untuk memperluas pandangan, tidak ada salahnya kepala sekolah melakukan antar pikiran, sumbangan saran dan studi banding antar sekolah untuk menyerap menejemen kepemimpinan sekolah lain yang lebih baik.

Kepala Sekolah harus mempelajari secara seksama baik kebijakan pemerintah maupun prioritas sekolah sendiri. Agar tidak terjadi tumpang tindih dalam bekerja Kepala Sekolah hendaknya memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dengan guru dan masyarakatsekitar sekolah, memiliki pemahaman dan wawasan yang luas tentang teori pendidikan dan pembelajaran, memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menganalisis situasi sekarang dan mampu memprediksi masa depan, memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah dan keutuhan yang berkaitan dengan efektifitas pendidikan di sekolah, serta mampu memanfaatkan berbagai peluang, menjadikan tantangan serta mengkonsptualisasikan arah baru untuk perubahan.

.Komunikasi adalah suatu bidang informasi dari seseorang terhadap orang lain melalui isyarat-isyarat, tanda-tanda atau symbol dengan bahasa yang saling dapat dimengerti. Komunikasi merupakan proses interaksi / hubungan saling pengertian satu sama lain antar sesama manusia serta penyampaian segala persoalan, sikap dan kehendak baik langsung maupun tidak langsung, sadar maupun tidak sadar dengan maksud untuk menimbulkan tindakan-tindakan yang akan mencapai organisasi secara efektif. Dengan adanya komunikasi yang baik antar guru dengan pimpinan, dan guru dengan guru, serta antar guru dengan murid, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan efektif.

Motivasi sangat penting dan dibutuhkan setiap orang dalam melaksanakan pekerjaannya, karena motivasi adalah kondisi yang dapat menggerakkan guru agar mampu mencapai tujuan dari motifnya (dorongan kebutuhan dalam diri karyawan yang perlu dipenuhi agar guru tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap Motivasi Berprestasinya). Jadi jelas bahwa seorang guru harus memiliki motivasi yang tinggi agar dapat mencapai tujuan dari motifnya dengan mudah. Berkaitan dengan motivasi kerja , maka ada beberapa kebutuhan yang harus terpenuhi antara lain kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk dapat diterima oleh kelompoknya, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan untuk menggunakan kemampuannya, pendapat atau ide-idenya.

Motivasi guru SD Negeri Leuwimunding III Kabupaten Majalengka perlu ditingkat, upaya ini dimaksudkan untuk mengantisipasi tuntutan perkembangan teknologi yang semakin pesat serta tantangan era globalisasi yang sangat berat. Melalui Kepemimpinan dan kedisiplinan diharapkan dapat meningkatkan motivasi kerja guru yang lebih baik, dan sesuai harapan banyak orang.

Berdasarkan pada latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul sebagai berikut: ” Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Komunikasi Interpersonal Dapat Meningkatkan Motivasi Kerja Guru Di SD Negeri Leuwimunding III Kabupaten Majalengka”.


 

B.        Perumusan Masalah

1.   Sebagaimana telihat pada latar belakang penelitian, yang telah penulis kemukakan tersebut di atas. Maka penelitian ini di buat suatu perumusan masalah dalam bentuk pertanyaan, adapun perumusan masalahnya sebagai berikut:

2.   Apakan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dapat Meningkatkan Motivasi Kerja Guru?

3.   Apakah Komunikasi Interpersonal dapat Meningkatkan Motivasi Kerja Guru?

4.   Apakah Secara bersama-sama Gaya Kepemimpinan kepala Sekolah dan Komunikasi Interpersonal dapat Meningkatkan Motivasi Kerja Guru?

C.        Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat beberapa tujuan yang ingin diketahui, yakni sebagai berikut:

1.   Untuk mengetahui apakah Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dapat Meningkatkan Motivasi Kerja Guru

2.   Untuk mengetahui apakah Komunikasi Interpersonal dapat Meningkatkan Motivasi Kerja Guru.

3.   Untuk mengetahui secara bersama-sama Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Komunikasi Interpersonal dapat meningkatkan Motivasi Kerja Guru.

D.        Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini di harapkan mampu memberikan manfaat dan berguna baik bagi sekolah dan penulis. Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1.   Bagi Penulis ;

Hasil penelitian ini sangat berguna untuk menambah wawasan berfikir juga dapat menambah ilmu pengetahuan serta pola berpikir yang lebih maju dan modern.

2.   Bagi Kepala Sekolah

Hasil penelitian ini sangat berguna sebagai bahan perbandingan dalam mengambil keputusan maupun kebijakan, terutama mengenai kepemimpinan dan komunikasi akan mempengaruh motivasi kerja guru.

3.   Bagi Pihak Lain ;

Hasil penelitian ini sangat berguna sebagai bahan referensi maupun literatur untuk penelitian lanjutan pada obyek dan tema yang sama maupun organisasi yang berbeda.


E.        Anggapan Dasar

Anggapan dasar dari penulisan ini adalah bahwa dengan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif serta komunikasi interprsonal yang lancar dapat meningkatkan Motivasi Kerja Guru.

F.         Sistematika Penulisan

Pada sistematika penulisan Penelitian ini guna mempermudah pemahaman dan mengetahui bab demi bab, maka penulis menguraikan sistematika penulisan Laporan Penelitian ini sebagai berikut:

BAB I    :  PENDAHULUAN

Pada bab pertama menguraikan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan anggapan dasar serta sistematika penulisan.

BAB II   :  TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ke dua menguraikan landasan teori mengenai pengertian Kepemimpinan, pengertian komunikasi serta, pengertian dan arti penting Motivasi.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini akan diuraikan tentang identifikasi variable, Definisi operasional Variabel, penentuan populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, metode analisis data.

BAB IV : GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN

Pada bab Iini menguraikan tentang profil obyek penelitian dan struktur organisasi

BAB V   : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ke empat menguraikan hasil penelitian dan pembahasan, hasil penelitian mengenai distribusi variabel, distribusi data hasil pengolahan data responden.

BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ke lima membuat suatu kesimpulan dan saran dari uraian yang dianalisis dalam pembahasan dengan harapan bermanfaat bagi semua pihak terutama bagi SD Negeri Leuwimunding III Kabupaten Majalengka.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.        Kajian Pustaka

1.   Pengertian Kepemimpinan

Keberhasilan dan kegagalan pencapaian tujuan organisasi dalam suatu organisasi sangat bergantung pada faktor kepemimpinan. Untuk itu, dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan kegiatan orang untuk mempengaruhi orang lain dalam suatu organisasi baik organisasi swasta maupun organisasi publik. Berikut ini akan diberikan beberapa pengertian atau definisi dari kepemimpinan yang dikemukakan oleh beberapa ahli dan penulis Menurut Mulia Nasution (2000: 224) mengemukakan bahwa: “Kepemimpinan adalah suatu usaha untuk mempengaruhi orang per orang, lewat komunikasi untuk dapat mencapai satu atau beberapa tujuan”.

Menurut Malayu SP. Hasibuan (2000: 167) mengemukakan bahwa: “Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan atau pegawainya, agar mau bekerja secara produktif untuk mencapai hasil yang maksimal agar tujuan organisasi tercapai”.

Definisi kepemimpinan menurut Joseph C. Rost (1993) yang dikutip Triantoro Safaria (2004: 3) mengemukakan kepemimpinan adalah: “Sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pimpinan dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata di organisasi yang mencerminkan tujuan bersama”.

Tetapi salah satu titik tolak dalam merumuskan definisi kepemimpinan dapat berangkat dari pendekatan yang bersifat perilaku. Berdasarkan pendekatan yang bersifat perilku tersebut Wahyusumidjo (2003: 26) mengemukakan definisi kepemimpinan adalah: “Kepemimpinan adalah seseorang mempengaruhi perilaku orang lain untuk berpikir dan berprilaku dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan organisasi dalam situasi tertentu”.

Dari beberapa definisi kepemimpinan seperti yang dikemukakan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan tentang definisi kepemimpinan, yaitu kepemimpinan adalah suatu Kepemimpinan yang dimiliki oleh seseorang (pemimpin) dalam upaya mempengaruhi orang lain/kelompok lain agar mau berfikir dan atau berperilaku/bertindak dan atau bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.


a.         Fungsi Kepemimpinan

Fungsi kepemimpinan merupakan kegunaan kepemimpinan di dalam suatu organisasi. Pada hakekatnya kepemimpinan mempunyai fungsi yang amat penting dan strategis dalam suatu organisasi atau perusahaan. Fungsi kepemimpinan antara lain adalah sebagai berikut:

Koordinator kegiatan dan penanggung-jawab kelompok sehingga dialah orang yang dipandang patut untuk paling dipercaya mengenai segala permasalahan bawahan.

Perencana dan penentu arah tujuan yang ingin dan akan dicapai oleh suatu organisasi/perusahaan.

Penampung aspirasi bawahan sebagai bahan pengambilan keputusan dan sebaliknya juga merupakan pusat penyebar informasi ke bawah sehingga nuansa transparansi antara bawahan dan atasan atau sebaliknya dapat tercipta.

Orang yang paling tahu dan paling memahami (ahli) mengenai aktivitas organisasi, sehingga ia merupakan orang yang dipandang dapat dijadikan tempat bertanya.

Merupakan wakil dari kelompok dalam menghadapi dunia luar, terutama berfungsi sebagai juru bicara apabila terjadi kontak interaksi atau komunikasi dengan dunia luar.

Pengawas atau pembimbing sehingga dia merupakan penggembala bawahan agar anak buah tidak melakukan penyimpangan perilaku atau bahkan sebagai penasehat apabila ada anak buah yang keliru dalam berbuat sesuatu.

Pemberi hadiah dan hukuman. Keberhasilan pimpinan adalah karena keberhasilan bawahan, oleh karena itu wajar apabila pemimpin memberikan hadiah, dan kepada para bawahan yang dengan sengaja melanggar aturan main, pemimpin perlu memberikan hukuman.

Penengah dan perantara antara kelompok yang ada dibawahnya. Hal ini terjadi manakala ada perselisihan atau kekurang-serasian hubungan antara kelompok kerja dalam suatu organisasi, sehingga iapun merupakan juru damai perselisihan yang mungkin terjadi antara kelompok satu dengan kelompok lain.

Merupakan teladan. Pemimpin merupakan pusat pandangan dan perhatian semua orang yang ada dalam organisasi sehingga setiap bawahan cenderung ingin membandingkan apa yang diperbuatnya dengan pemimpinnya.

Lambang bagi kelompok. Keberadaan pemimpin dapat dianggap sebagai wakil personifikasi semua pribadi kelompok. Oleh karena itu, identitas kelompok tidak perlu harus mengetahui ciri-ciri masing-masing individu dalam kelompok melainkan cukup dengan mengenal pemimpinnya saja sehingga dalam hal yang demikian ini, maka keberadaan pemimpin merupakan simbol atau lambang dari keberadaan kelompok tersbeut.

Wakil yang bertanggung jawab. Dalam hal mengekspresikan diri keluar, anggota organisasi tidak perlu harus secara bersama-sama atau beramai-ramai hadir dan bersuara bersama, melainkan cukup mempercayakan kepada sang pemimpin yang bertindak selaku wakil semua anggota kelaompok secara bertanggung-jawab berdasarkan aspirasi kelompok.

Sumber ide bagi kelompok. Mengingat bahwa pemimpin itu adalah seseorang yang dipandang ahli dan penentu, baik kebijaksanaan maupun tujuan organisasi, lambang dan sekaligus sebagai orang yang patut diteladani, maka pemimpin juga merupakan sumber munculnya ide-ide bagi bawahan. Artinya apa yang dikemukakan oleh pemimpin akan dikembangkan oleh anak buahnya kedalam suatu kreasi-kreasi baru yang dapat memunculkan pengembangan aktivitas dalam organisasi.

Merupakan figure ayah bagi bawahan. Dalam fungsinya yang merupakan pembimbing dan teladan, maka pemimpin juga ditempatkan posisinya sebagai ayah. Oleh karena itu, tidak jarang apabila ada bawahan yang sedang mengalami permasalahan pribadi diluar kedinasan dan ingin berkonsultasi dengan pemimpinnya, maka sang bawahan dapat menjadikan pimpinan tersebut sebagai ayah atau bapak sendiri.

Orang yang berani bersaing. Bagaimanapun juga seorang pemimpin merupakan andalan bagi anggota kelompok. Oleh karena itu, pemimpin tidak ingin mengrobankan nasib anak buahnya sehingga terhadap tantangan atau persaingan apapun yang datang dari luar, pemimpin harus siap melakukan persaingan atau menerima tantangan.

b.         Persyaratan Kepemimpinan

Seorang pemimpin tidak dapat begitu saja muncul ke permukaan, tetapi perlu memenuhi beberapa persyaratan, antara lain sebagai berikut:

Memiliki kecerdasan yang tinggi. Sebagai pemimpin akan diharapkan banyak kepadanya, misalnya ia harus berani mengambil keputusan dalam keadaan bagaimanapun, ia juga mampu sebagai perencana atau pencetus ide-ide dan sebagainya.

Dapat melihat aspek sosial dengan baik. Dalam hal ini berarti pemimpin harus memiliki wawasan yang jauh dan luas agar ruang gerak aktivitas organisasinya dapat berjalan secara terbuka, luwes dan dalam memilih kebijaksanaan didasarkan pada referensi yang kuat.

Keseimbangan akan perasaan. Tidak dapat dibayangkan apabila suatu organisasi dipimpin oleh orang yang tidak stabil atau tidak matang emosionalnya, maka organisasi dapat dipastikan akan berjalan diatas garis yang tidak berprinsip, seiring berubah-ubah haluan dan serba tidak menentu.

Percaya diri sendiri. Seorang pemimpin harus mempunyai keyakinan terhadap diri sendiri yang kuat. Untuk itu ia harus mempunyai prinsip, dan diatas prinsip itulah dibangun kepercayaan anggota dan keyakinan diri. Apabila anggota sudah meyangsikan atas eksistensi diri dari organisasinya sendiri, maka sulit bagi organisasi itu dapat berjalan dan mencapai tujuannya.

BerKepemimpinan untuk mempengaruhi orang lain. Seorang pemimpin harus mampu bertindak sebagai seorang manajer yang baik. Sebagai seorang manajer, ia harus mampu memenej orang lain, artinya mampu mempengaruhi, mengajak, menganjurkan dan mencegah apa yang harus dilakukan dan dihindari oleh anak buahnya. Sulit untuk mencapai tujuan organisasi tanpa pemimpin mampu mengajak anak buah atau tanpa anak buah patuh, simpati dan berpartisipasi dalam upaya pencapaian tujuan organisasi.

Memiliki ras tanggung jawab yang besar. Substansi dari syarat yang mutlak harus dimiliki oleh calon pemimpin adalah tanggung jawab. Pemimpin harus berani dan mampu mempertanggung jawabkan atas apa yang telah diperbuatnya selama ia menjadi pemimpin.

Selain pemimpin menjalankan fungsi-fungsi dan peranannya dalam pencapaian tujuan organisasi, dalam pelaksanaan tugasnya setiap pemimpin mempunyai pandangan mengenai kepemimpinan, menurut Pamudji (1995: 9) adalah sebagai berikut ini:

1)   Kepemimpinan sebagai titik pusat proses-proses kelompok (leadership as a focus of group processes)

2)   Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang mempunyai pengaruh (leadership as personality and its sffects)

3)   Kepemimpinan adalah seni untuk menciptakan kesesuaian faham atau kesetiaan, kesepakatan (leadership as the art of inducing compliance)

4)   Kepemimpinan adalah pelaksanaan pengaruh (leadership as the exercise of influence)

5)   Kepemimpinan adalah tindakan atau perilaku (leadership as act or behavior)

6)   Kepemimpinan adalah suatu bentuk persuasi (leadership as a form of persuasion)

7)   Kepemimpinan adalah suatu hubungan kekuatan/kekuasaan (leadership as a power relation)

8)   Kepemimpinan adalah sarana pencapaian tujuan (leadership as an instrument of goal achievement)

9)   Kepemimpinan adalah suatu hasil dari interaksi (leadership as an effect of interaction)

10) Kepemimpinan adalah peranan yang dipilahkan (leadership as a differentiated role)

11) Kepemimpinan adalah inisiasi (permulaan) dari struktur (leadership as the initiation of structure).

 

2.         Pengertian Komunikasi

Komunikasi adalah suatu bidang informasi dari seseorang terhadap orang lain melalui isyarat-isyarat, tanda-tanda atau symbol dengan bahasa yang saling dapat dimengerti.

Menurut M. Fariand Komunikasi proses interaksi / hubungan saling pengertian satu sama lain antar sesama manusia.

Menurut gagnes Komunikasi penyampaian segala persoalan, sikap dan kehendak baik langsung maupun tidak langsung, sadar maupun tidak sadar.

Menurut William G. Scott Komunikasi adalah proses yang mencakup penyampaian dan penyaluran yang cermat ole hide-ide dengan maksud untuk menimbulkan tindakan-tindakan yang akan mencapai organisasi secara efektif.

Menurut Kamus administrasi perkantoran komunikasi adalah penyampaian warta yang mengandung macam-macam keterangan dari seseorang kepada orang lain.

Pengertian komunikasi menurut Keith Davis (1985: 458) mengemukakan bahwa: “Communication is the transfer of information and understanding from one person to anather person”. (Komunikasi adalah pemindahan informasi dan pemahaman dari seseorang kepada orang lain).

Menurut pendapat Edwin B. Flippo (1992: 448) mengemukakan bahwa: “Communication is the act of inducing others to interpret an idea in the manner intended by the speaker or writer”. (Komunikasi adalah aktivitas yang menyebabkan orang lain menginterpetasikan bahwa suatu ide, terutama yang dimaksudkan oleh pembicara atau penulis).

Menurut Andrew E. Sikula (1993: 94) mendefinisikan bahwa: “Comunication is the prosess of transmitting information, meaning, and understanding from one person, place, or thing to anather person, palce or thing”. (Komunikasi adalah proses pemindahan informasi, pengertian dan pemahaman dari seseorang, suatu tempat, atau sesuatu kepada sesuatu, tempat atau orang lain).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka komunikasi dapat diartikan sebagai proses pemindahan suatu informasi, ide, pengertian dari seseorang kepada orang lain dengan harapan orang lain tersebut dapat menginterpretasikannya sesuatu dengan tujuan yang dimaksud.

Dibawah ini dikemukakan dua model proses komunikasi, yaitu model proses komunikasi menurut Keith Davis dan Andrew E. Sikula sebagai berikut: Model Proses komunikasi Menurut Keith Davis Menurut pendapat Keith Davis (1985: 461) mengemukanan bahwa: “The communication process is the method by which a sender reashes a receiver with a message. It requiressix steps wethwr the two parties talk, use hand signals, or employee some ather means of communication”.

Berdasarkan pendapat Ketih Davis (1985: 461) tersebut, proses komunikasi merupakan suatu metode di mana pengirim pesan (sender) dapat menyampaikan pesannya kepada penerima pesan (receiver). Hal ini memerlukan enam tahap, apakah mereka berbicara, menggunakan isyarat, atau melakukan beberapa tujuan lain dari komunikasi.

b. Model Proses Komunikasi Menurut Andrew E. Sikula

Menurut pendapat Andrew E. Sikula (1993: 96) mengekukakan bahwa:

“The process of communication is best explained in terms of a model featuring a sequence or series of steps”. (Proses komunikasi adalah sangat baik dijelaskan dalam bentuk suatu model yang menggambarkan serangkaian tahapnya).

Berdasarkan pendapat Edwin B. Flippo dalam A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, (2003: 152) tersebut arah saluran komunikasi adalah sebagai berikut:

Saluran Komunikasi pegawai sebaai bawahan terhadap Atasan, Yaitu:

1) Kontak secara tatap muka

2) Pertemuan kelompok pengawasan

3) Pertemuan dengan pemimpin (top management) secara periodik

4) Program “Speak up” dimana pegawai diberikan nomor telepon untuk memanggil

5) Kotak keluhan tanpa nama

6) Pertemuan pegawai dengan pemegang saham setiap tahun

7) Menggunakan prosedur pengaduan 8) Kuesioner mengenai moral

9) Wawancara

10) Kebijakan secara terbuka

11) Perserikatan Buruh atau PBSI

12) The grapevine

13) Ombudsmen and Ombudswomen

14) Program penyuluhan pegawai.

Saluran Komuniasi yang digunakan sebagai atasan kepada bawahan, yaitu:

15) Perintah berantai

16) Bulletin dinding dan poster

17) Majalah perusahaan

18) Majalah perusahaan

19) Surat kepada pegawai

20) Rak informasi

21) Sistem pengeras suara

22) Pay inserts

23) The grapevine

24) Laporan tahunan

25) Pertemuan kelompok

26) Perserikatan buruh atau PBSI.

3.   Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerjasama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.

Menurut Malayu S.P. Hasibuan, (2004: 140) mengemukakan pentingnya motivasi adalah: “Motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Motivasi semakin penting karena manajer membagikan pekerjaan pada bawahannya untuk dikerjakan dengan baik dan terintegrasi kepada tujuan yang diinginkan”.

Untuk mempermudah pemahaman motivasi kerja, berikut ini didefinisikan oleh Fillmorre H. Stanford (1967: 173) dalam Anwar Prabu Mangkunegara (2004: 93) bahwa: “Motif adalah merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri pegawai yang perlu dipenuhi agar pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, sedangkan motivasi adalah kondisi yang mengerakkan pegawai agar mampu mencapai tujuan dari motifnya Dalam melakukan pekerjaan pegawai selalu dihadapkan oleh motif, harapan dan insentif”.

Menurut pendapat Sedarmayanti (2000: 104) mengemukakan bahwa: “Motivasi sebagai keseluruhan proses pemberian motif kerja kepada para bawahan sedemikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan iklas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efektif dan efisien”.

Sedangkan menurut Purwanto (1999: 60) mengemukakan bahwa: “Motif adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Jadi apa saja yang diperbuat manusia yang penting maupun yang kurang penting, yang berbahaya maupun tidak mengandung resiko selalu ada motivasinya”.

Berdasarkan teori-teori diatas maka dalam penelitian ini motivasi kerja didefinisikan sebagai sesuatu yang mendorong seseorang untuk bekerja, meliputi ingin berprestasi dan ingin lebih maju, ingin mendapat pengakuan, ingin mendapat gaji yang memadai, hubungan kerja yang harmonis dan menyenangkan.

Motivasi dalam kehidupan ini sangat diperlukan sebab seseorang yang melakukan aktivitas tanpa motivasi tidak akan serius dan bersemangat. Orang yang bekerja tanpa motivasi cenderung untuk santai dan semaunya sendiri. Motivasi merupakan faktor yang menyebabkan manusia berbuat seperti apa yang dia perbuat. Faktor tersebut terdiri dari aspek subjektif yaitu kondisi yang berada di dalam dirinya berwujud need, dan aspek objektif yaitu kondisi yang berada di luar dirinya berwujud incentive atau goal.

Menurut Sondang P. Siagian (1995: 73), yang dimaksud dengan teknik motivasi adalah “cara terbaik yang digunakan dalam pelaksanaan motivasi”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pelaksanaan fungsi motivating dalam organisasi dapat dijalankan dengan baik menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:

a.   Jelaskan tujuan organisasi pada setiap orang yang ada dalam organisasi.

b.   Usahakanlah agar setiap orang menyadari, memahami dan menerima baik tujuan organisasi.

c.   Jelaskan filsafat yang dianut pimpinan organisasi dalam menjalankan kegiatan organisasi.

d.   Jelaskan kebijaksanaan yang ditempuh oleh pimpinan organisasi dalam usaha mencapai tujuan.

e.   Usahakanlah agar setiap orang mengerti struktur organisasi.

f.   Jelaskan peranan yang diharapkan oleh pimpinan untuk dijalankan oleh setiap orang.

g.   Tekankan pentingnya kerjasama dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang diperlukan.

h.   Perlakukan setiap bawahan sebagai manusia dengan penuh perhatian.

i.    Berikan pujian serta penghargaan kepada pegawai yang cakap dan teguran serta bimbingan kepada orang-orang yang kurang mampu bekerja.

f.   Yakinkan setiap orang bahwa bekerja dengan baik dalam organisasi tujuan pribadi orang-orang tersebut akan tercapai semaksimal mungkin.

a.   Model Motivasi

Perkembangan teori manajemen mencakup modal-modal atau teori-teori motivasi yang berbeda-beda. Pandangan manager yang berbeda-beda tentang masing-masing modal adalah penentu penting keberhasilan mereka dalam mengelola pegawaimenurut T. Hani Handoko (1993, hal 252) bahwa berdasarkan urutan kemunculannya terdapat 3 modal motivasi sebagai berikut:

1.   Model Tradisional. Modal ini mengisyaratkan bahwa manajer menentukan bagaimana pekerjaan-pekerjaan harus dilakukan, maka digunakan sistem pengupahan intensif untuk memotivasi para pekerja sehingga lebih banyak berproduksi dan lebih banyak menerima penghasilan.

Pandangan tradisional menganggap bahwa para pekerja pada dasarnya malas dan hanya dapat dimotivasi dengan penghargaan yang berwujud uang. Jadi modal ini berpandangan bahwa antara produktivitas dan pengupahan insentif mempunyai hubungan yang sebanding sehingga dalam meningkatkan efisiensi maka jumlah pegawai yang dibutuhkan untuk tugas tertentu dapat dikurangi.

2.   Modal Manusiawi. Banyak praktek manajemen merasakan bahwa pendekatan tradisional tidak memadai. Alton Mayo dan para peneliti hubungan manusiawi lainnya menemukan bahwa kontak-kontak social pegawaipada pekerjaannya adalah jasa penting dan bahwa kebosanan dan tugas-tugas yang bersifat pengulangan adalah faktor-faktor pengurangan motivasi.. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial dan membuat mereka merasa berguna dan penting akan menambah motivasi karyawan. Sebagai contoh para pegawaidiberi kebebasan untuk membuatkeputusan sendiri dalam pekerjaannya; perhatikan lebih besar diarahkan pada kelompok-kelompok kerja organisasi informasi disediakan untuk pegawaitentang perhatian manajer dan operasi organisasi. Jadi modal hubungan manusiawi menggambarkan bahwa manajer dapat memotivasi bawahan malalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial mereka serta membuat mereka berguna dan penting.

3.   Modal Sumber Daya Manusia. Modal Sumber Daya Manusia dikemukakan oleh Mc. Gregor dan LMaslow serta para peneliti seperti Arqyris dan Likest yang menyatakan bahwa para pegawai dimotivasi oleh banyak faktor, tidak hanya uang atau keinginan untuk mencapai kepuasan, tetapi juga kebutuhan untuk berprestasi dan memperoleh pekerjaan yang berarti. Para pegawai lebih menyukai pemenuhan kepuasan dari suatu prstasi kerja yang baik. Jadi para pegawai dapat diberi tanggung jawab yang lebih besar untuk pembuatan keputusan-keputusan dan pelaksanaan tugas-tugas.

b.   Teori-teori Motivasi

Teori motivasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok (T. Hani Handoko 1993, hal 255) sebagai berikut: 1) Teori-teori petunjuk (Prescriptive Theories) mengemukakan bagaimana memotivasi pegawai didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdaulu; 2) Teori-teori isi (conten theoris) atau teori kebutuhan (need theories). Teori ini berkenaan dengan pertanyaan apa penyebab-penyebab prilaku atau memusatkan pada pertanyaan “apa” dari motivasi. Diantara teori-teori ini adalah: Hirarki kebutuhan dari psikolog Abraham H. Maslow, Fredrick herzberg dengan teori motivasi pemeliharaan David Mc Clelland. Jadi teori isi menitik beratkan pada apa yang mendorong manusia melakukan suatu kegiatan; 3) 3. Teori-Teori Process Theories) Teori ini menguraikan bagaimana prilaku dimulai dan dilaksanakan atau menjelaskan aspek “bagimana” dari motivasi.

Diantara teori-teori ini adalah: teori pengharapan, pembentukan prilaku (Operant Conditioning), teori porter-lawter, teori keadilan, jadi teori proses lebih menekankan tentang bagaimana mendorong manusia agar berbuat sesuatu. Selanjutnya menurut Gibson Ivancevich, Donnelly (1996, hal 186) teori motivasi dibagi dalam dua katagori yaitu: 1) Teori keputusan/Teori isi dan 2) Teori Proses.

Teori keputusan/Teori isi Teori ini memfokuskan pada faktor-faktor dalam diri seseorang yang mendorong, mengarahkan mempertahankan dan menghentikan prilaku atau dengan kata lain apa yang mendorong manusia melakukan suatu kegiatan. Sedangkan Teori Proses Teori yang menerapkan dan menganalisa bagaimana prilaku didorong, diarahkan, dipertahankan dan dihentikan.

1)         Teori Keputusan/Teori isi

Menurut T. Hani Handoko (1993, hal 256) teori isi dari motivasi memusatkan perhatiannya pada apa penyebab-penyebab prilaku terjadi dan berhent. Penyebab tersebut antara lain:

a)   Kebutuhan motif-motif atau dorongan-dorongan yang mendorong, menekankan, mengacu pada pegawai untuk melakukan kegiatan.

b)   Hubungan-hubungan para pegawai dengan faktor-faktor eksternal (insentif) yang menyarankan, menyebabkan, mendorong dan mempengaruhi mereka untuk melaksanakan suatu kegiatan.

Teori isi menekankan pentingnya pengertian akan faktor-faktor internal individu seperti kebutuhan atau motif yang menyebabkan mereka memilih kegiatan, cara dan prilaku tertentu kebutuhan yang dirasakan. Faktor-faktor eksternal seperti gaji, kondisi kerja, hubungan kerja, kenaikan pangkat, delegasi wewenang memberikan nilai untuk mendapatkan prilaku pegawai yang positif dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Berdasarkan prinsip utama tersebut, dikemukakan empat teori motivasi sebagai berikut:

(1)  Teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow. Maslow dalam teorinya seperti yang dikutip Gibson, Ivancevich, Donnelly (1996 hal 189) mengetengahkan tingkatan kebutuhan yang berbeda kekuatannya dalam memotivasi seseorang melakukan sesuatu kegiatan. Dengan kata lain kebutuhan bersifat yang secara berurutan berbeda kekuatan dalam memotivasi suatu kegitan. Selanjutnya Maslow seperti dikutip Agus Sunyoto (1995, hal 35) menyatakan tingkat terendah adalah kebutuhan fisiologis dan tingkat tertinggi adalah selengkapnya sebagai berikut: 1) Fisiologi/Phisiological needs: Makanan, minuman, perumahan, sembuh dari sakit, dan istirahat; 2) Keamanan dan keselamatan/safety and Security needs: Kebutuhan untuk kemerdekaan dari ancaman yaitu keamanan dari kejadian atau lingkungan yang mengancam; 3) Rasa memiliki, sosial dan kasih sayang/sosial needs: Kebutuhan atas persahabatan, berkelompok, intraksi dan kasih saying; 4) Penghargaan/Esteem needs: Kebutuhan atas harga diri (self esteem) dan penghargaan dari pihak klain; 5) Aktulisasi diri/self actualization needs: Kebutuhan untuk memenuhi diri seseorang melalui memaksimumkan kemampuan penggunaan kemampuan, keahlian dan potensi.

Teori Maslow seperti dikutif H. Hadri Nawawi (1998, hal 353) mengetengahkan beberapa asumsi dari urutan atau tingkat kebutuhan yang berbeda kekuatannya dalam memotivasi para pegawai sebagai berikut:

Kebutuhan yang lebih rendah adalah yang terkuat yang kebutuhan dipenuhi lebih dahulu. Kebutuhan itu adalah kebutuhan fisik (lapar, haus, pakaian, perumahan dan sebaginya). Dengan demikian kebutuhan yang terkuat yang memotivasi seseorang pekerja adalah untuk memperoleh penghasilan yang dapat digunakan dalam memenuhi kebutuhan fisiknya.

Kekuatan kebutuhan dalam memotivasi tidak lama karena setelah terpenuhi akan melemah atau kehilangan kekuatannya dalam memotivasi dan digantikan kebutuhan-kebutuhan selanjutnya yang mendominasi.

Cara yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi ternyata lebih banyak dari pada untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda pada urutan yang lebih rendah. Dengan kata lain untuk memenuhi kebutuhan fisik cara satu-satunya yang dapat digunakan dengan memberikan penghasilan yang memadai, sedangkan untuk kebutuhan aktualisasi diri dapat digunakan banyak cara yang memerlukan kreativitas dan inisiatif para manager.

b)   Teori Erg-Clayton Alderfer. Hirarki kebutuhan menurut teori erg-alderfer seperti dikutip Gibson, Ivancevich, Donnelly (1996 hal 194) hanya terdiri dari tiga set kebutuhan sebagai berikut:

(1)  Ekssitensi/Existense (E). Kebutuhan-kebutuhan terpuaskan organisasi oleh faktor-faktor seperti makanan, udara, air, gaji dan kondisi pekerjaan.

(2)  Keterkaitan/Relatedness (R). Kebutuhan-kebutuhan terpuaskan dengan adanya hubungan sosial dan interpersonal yang berarti.

(3)  Pertumbuhan. Kebutuhan-kebutuhan terpuaskan oleh seorang individu dengan menciptakan kontribusi yang kreatif atau produktif.

Jika makna ketiga istilah tersebut diperhatikan akan terlihat bahwa secara konseptual terdapat perbedaan-perbedaan antara teori kebutuhan Maslow dengan teori motivasi Alderfer. Maslow mengatakan bahwa kebutuhan yang belum dipenuhi lebih banyak berperan dan banyak tingkat kebutuhan selanjutnya yang lebih tinggi tidak didorong. Jadi seseorang akan meningkat kepada hirarki kebutuhan yang lebih tinggi hanya bila kebutuhan tingkat rendahnya telah terpuaskan. Sebaliknya teori ERG menyatakan bahwa sebagai tambahan kepada proses peningkatan kepuasan yang diajukan Maslow. Proses prustasi juga terjadi, yaitu jika seseorang terus frustasi dalam mencoba memuaskan kebutuhan pertumbuhan kebutuhan keterkaitan muncul kembali sebagai kekuatan motivasi yang utama menyebabkan individu mengarahkan kembali upaya-upaya untuk memuaskan kebutuhan tingkat yang lebih rendah. Selanjutnya selain perbedaan diatas terdapat juga persamaan antara teori yang dikemukankan Maslow dan Aldelfer karena: Existence/eksistensi serupa dengan kelompok fisiologis dan keamanan dari Maslow. Relatedness atau keterkaitan serupa dengan kelompok rasa memiliki sosial dan kasih sayang dan Growth atau pertumbuhan serupa dengan kelompok penghargaan dan aktualisasi diri. (Sondang P. Siagian 1998 hal 289).

c.         Teori Dua Faktor Herzberg

Frederick Herzberg seperti dikutip Gibson Invancevich, Donnelly (1996, hal 197) mengembangkan teori motivasi dua faktor kepuasan. Kedua faktor tersebut adalah bukan pemuas dan pemuasan dan higiensi/pemeliharaan dan motivator atau Ekstrinsik dan intrinsic. Menurut teori ini yang dimaksud dengan faktor motivasional adalah hal-hal pendorong berprestasi yang sifatnya instrik, yang berarti bersumber dari dalam diri seseorang. Sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari diri seseorang.

Kelompok kondisi ekstrinsik (konteks pekerjaan) yakni meliputi sebagai berikut: 1) Upah; 2) Keamanan kerja; 3)           Kondisi kerja; 4) Status; 5) Prosedur perusahaan; 6) Mutu penyelia; 7) Mutu hubungan interpersonal antara sesama rekan kerja, atasan dan bawahan.

Keberadaan kondisi-kondisi ini terhadap kepuasan pegawaitidak selalu memotivasi mereka. Tetapi ketidak beradaanya menyebabkan ketidak puasan bagi karyawan. Kondisi ekstrinsik disebut ketidak puasan atau faktor higieni. Kelompok kondisi intrinsic (isi kerja) meliputi: 1) Pencapaian prestasi; 2) Pengakuan; 3) Tanggung jawab; 4) Kemajuan 5) Pekerjaan itu sendiri; 6) Kemungkinan berkembang.

Kealpaan kondisi-kondisi ini tidak berarti membuktikan kondisi tidak puas. Tetapi kalau ada akan membentuk motivasi yang kuat yang menghasilkan prestasi kerja yang baik. Kondisi instrinsik disebut pemuas atau motivasi.

Teori motivasi dua faktor herzberg memandang bahwa kepuasan kerja berasal dari keberadaan motivasi intrinsic dan bahwa ketidakpuasan kerja berasal dari ketidakberadaan faktor-faktor ekstrinsik.

d.         Teori Kebutuhan Motivasi Mc Clelland

Menurut David C. Mc. Clelland seperti dikutip Gibson, Ivancevich, Donelly (1996, hal 200) teori kebutuhan motivasi yang dipelajari mengatakan bahwa seseorang dengan sesuatu kebutuhan yang kuat akan termotivasi untuk menggunakan tingkah laku yang sesuai guna memuaskan kebutuhan.

Kebutuhan seseorang dipelajari dari kebudayaan suatu masyarakat. Teori kebutuhan motivasi yang dipelajari erat hubungannya dengan konsep belajar. Tiga kebutuhan yang dipelajari ini sebagai berikut: 1) Kebutuhan berprestasi (n. Ach); 2)  Kebutuhan berafiliasi (n. Aff); 3) Kebutuhan berkuasa (n. Pow);

Menurut Mc. Clelland ketika suatu kebutuhan berada dalam diri seseorang, efeknya adalah memotivasinya untuk menggunakan tingkah laku yang mengarah pada pemuasan kebutuhan. Seseorang pekerja dengan n. Ach tinggi akan bekerja keras untuk mencapai tujuan dan mengamankan keterampilan serta kemampuan untuk mencapainya. Orang-orang yang berorientasi mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu seperti yang diuraikan berikut ini:

(1)  Menyukai pengambilan resiko yang layak/moderat sebagai fungsi keterampilan, bukan kesempatan, menyukai suatu tantangan dan menginginkan tanggung jawab pribadi bagi hasil-hasil yang dicapai

(2)  Memilih umpan balik langsung dan dapat diandalkan mengenai bagaimana mereka berprestasi.

(3)  Menyukai tanggung jawab pemecahan masalah.

2.   Teori Proses

Teori-teori sebelumnya memusatkan pada kebutuhan-kebutuhan tyang mendorong atau memacu perilaku dan insentif-insentif yang menarik atau yang menyebabkan prilaku. Sedangkan teori-teori proses yang berkenaan dengan bagaimana prilaku timbul dan dijalankan. Teori proses motivasi memberikan uraian dan analisis dari proses takala prilaku mempunyai kekuatan, diarahkan dipertahankan dan dihentikan.

Proses utama dari teori motivasi yang akan dikemukakan meliputi penguatan, penghargaan keadilan dan penetapan tujuan.

a)         Teori Penguatan

B. F. Skinner seperti dikutip Gibson, Ivancevich, Donnelly (1996, hal 226) mengemukakan pendekatan lain terhadap motivasi yang mempengaruhi dan merubah prilaku kerja yang teori-teori pembentukan prilaku (Operant Conditioning) atau pengkondisian operant atau juga disebut Behaviar Modification (B-Mod)/modifikasi prilaku. Jadi modifikasi prilaku adalah pembelajaran individu melalui adanya penguatan.

Teori pemuatan tergantung pada penerapan prinsip pengkondisian operan untuk memotivasi orang menurut T. Hani Handoko (1993, hal 264) asumsi utama dari pengkondisian operan adalah bahwa prilaku dipengaruhi oleh konsekuensinya, yang menyatakan bahwa prilaku yang diikuti dengan konsekuensi-konsekuensi pemuasan, cenderung diulang.

Sedangkan prilaku yang diikuti konsekuensi-konsekuensi hukuman cenderung tidak diulang. Bila konsekuensi itu positif individu akan memberikan tanggapan sama terhadap situasi yang sama tapi bila konsekuensi tidak menyenangkan individu akan cenderung merubah perilaku untuk menghindar dari prekwensi tersebut.

T. Hani Handoko (1993, hal 265) menjelaskan ada empat teknik yang dapat digunakan untuk merubah prilaku bawahan, yaitu: 1) Penguatan positif, bila penguatan primer seperti minuman atau makanan yang memuaskan kenutuhan-kebutuhan biologis ataupun penguatan sekunder, promosi dan uang; 2) Penguatan negatif, dimana individu akan mempelajari perilaku yang konsekuensi tidak menyenangkan; 3) Pemandaman, dilakukan dengan peniadaan penguatan; 4) Hukuman, melalui mana manajer mencoba untuk mengubah perilaku bawahan yang tidak tepat dengan pemberian konsekuensi-konsekuensi negatif.

Berdasarkan uraian diatas jelas bahwa penguatan pada dasarnya berarti pengulangan kegiatan karena mendapat ganjaran. Ganjaran selain berbentuk material dapat pula yang bersifat non material atau dapat pula berarti pemberian insentif. Inplementasi teori tersebut dilingkungan sebuah organisasi mengharuskan para manajer mampu mengatur cara pemberian insentif dalam motivasi para pekerja. Dengan kata lain insentif yang diberikan harus diupayakan mampu mewujudkan penguatan bagi kegiatan pelaksanaan pekerjaan.

b)         Teori Harapan

Teori harapan motivasi dikembangkan oleh Victor Vroom, seperti dikutip oleh Gibson, Ivancevich Donnelly (1996, hal 242) dimana seseorang diharapkan pada satu set hasil tingkat pertama dan memilih suatu hasil yang didasarkan pada bagaimana pilihan tersebut dihubungkan dengan hasil tingkat kedua. Hasil tingkat pertama diperoleh dari perilaku yang dihubungkan dengan pelaksanaan pekerjaan itu sendiri, termasuk produktivitas, absensi dan mutu produktivitas. Hasil tingkat kedua adalah kejadian-kejadian seperti (imbalan atau hukuman) yang mungkin diakibatkan oleh hasil tingkat pertama seperti perbaikan upah dan promosi.

Menurut H. Hadari Nawawi (1998, hal 356) teori ini berpegang pada prinsip yang mengatakan: terdapat hubungan yang erat antara pengertian seseorang mengenai atau tingkah laku, dengan hasil yang ingin diperoleh sebagai harapan. Dengan demikian barerti juga harapan merupakan energi pengerak untuk melakukan sesuatu kegiatan untuk mencapai suatu yang diinginkan yang disebut usaha. Usaha dilingkungan para pekerja dilakukan berupa kegiatan yang disebut bekerja, pada dasarnya didorong oleh harapan tertentu. Usaha yang dapat dilakukan pekerja sebagai individu dipengaruhi oleh jenis dan kualitas kemampuan yang dimilikinya yang diwujudkannya berupa keterampilan/keahlian dalam bekerja.

Berdasarkan jenis dan kualitas keterampilan/keahlian dalam bekerja akan diperoleh hasil yang jika sesuai dengan harapan akan dirasakan sebagai ganjaran yang memberikan rasa kepuasan. Implementasinya dilingkungan sebuah organisasi sebagai berikut:

(1)  Manajer perlu membantu para pekerja memahami tugas-tugas/pekerjaannya dihubungkan dengan kemampuan atau jienis dan kualitas keterampilan/keahlian yang dimilikinya.

(2)  Berdasarkan pengertian itu manajer perlu membantu para pekerja agar memiliki harapan yang realitstis yang tidak berlebih-lebihan.

(3)  Manajer perlu membantu para pekerja dalam meningkatkan keterampilan/keahlian dalam bekerja, yang dapat meningkatkan harapannya dan akan meningkatkan pula usahanya malalui pelaksanaan pekerjaan yang semakin efektif dan efesen.

c.         Teori Keadilan

Teori keadilan motivasi dikembangkan oleh J. Stacey Adam, dikutip oleh Gibson, Ivancevich Donnelly (1996, hal 248) dimana esensi dari teori keadilan adalah bahwa pegawai membandingkan upaya dan imbalan mereka dengan pegawai lain dalam situasi kerja yang sama.

Teori motivasi ini didasarkan pada asumsi bahwa individu yang bekerja dalam rangka memperoleh tukaran imbalan dari organisasi di motivasi oleh suatu keinginan untuk diperlakukan adil dipekerjaannya.

Ada empat ukuran penting dalam teori ini sebagai berikut: 1) Orang: individu yang merasakan diperlakukan adil atau tidak; 2) Perbandingan dengan orang lain: setiap individu atau kelompok yang digunakan oleh seseorang sebagai suatu pembandingan rasio masukan dan hasil; 3) Masukan: karakteristik individu yang dibawa seseorang kedalam pekerjaan hal ini mungkin diraih (seperti: keterampilan, pengalaman, pembelajaran) atau bawaan (seperti: umur, jenis kelamin, ras); 4) Hasil: apa yang diterima seseorang dari pekerjaan (seperti: pengakuan, tunjangan dan gaji).

Keadilan dikatakan ada kalau pegawai mengaggap bahwa ratio masukan mereka (upaya) terhadap hasil (imbalan) sepadan dengan rasio dari pegawai lain. Ketidak adilan dikatakan ada bila rasio tidak aktivalen: rasio antara masukan individu dengan hasil bias lebih besar atau lebih kecil dibandingkan dengan lainnya. Menurut T. Hani Handoko (1993, hal 267) keyakinan atas dasar pembandingan tentang adanya ketidak adilan dalam bentuk pembayaran kurang atau lebih akan mempunyai pengaruh pada perilaku dalam pelaksanaan kegiatan. Faktor kunci bagi manager adalah mengetahui ketidak adilan dirasakan dan bukan apakah ketidak adilan secara nyata ada.

d.         Teori Penetapan Tujuan

Menurut H. Hadari Nawawi (1998, hal 357) dalam bekerja tujuan bukan harapan. Kenyataannya harapan bersifat subjective dan berbeda-beda antara setiap individu meskipun bekerja pada unit kerja yang sama. Tujuan bersumber dari rencana strategic dan operasional organisasi yang tidak dipengaruhi individu dan tidak mudah berubah-ubah, oleh karena itu tujuan bersifatobjektif. Setiap pekerja yang memahami dan menerima tujuan organisasi atau unit kerjanya dan merasa sesuai dengan dirinya akan merasa ikut bertanggung jawab dalam mewujudkannya. Dalam keadaan seperti itu tujuan akan berfungsi sebagai motivasi dalam bekerja implementasi dari teori ini dilingkungan organisasi dapat diwujudkan sebagai berikut:

(1)  Tujuan unit kerja atau tujuan organisasi merupakan fukus utama dalam bekerja. Oleh karena itu para manajer perlu memiliki kemampuan merumuskannya secara jelas dan rinci agar mudah dipahami para pekerja sehingga bila mengalami kesulitan memahami dan menyesuaikan diri dengan tujuan yang hendak dicapai, para pekerja perlu mendapatkan bantuan manajer.

(2)  Tujuan organisasi menentukan tingkat intensitas pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan tingkat kesulitan mencapainya. Untuk itu para manajer perlu merumuskan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan pekerja yang ikut serta mewujudkannya.

(3)  Tujuan yang sulit menimbulkan kegigihan dan ketekunan dalam usaha mencapainya, melebihi dari tujuan yang mudah mencapainya. Untuk itu para manajer perlu menghargai para pekerja yang berhasil mewujudkan tujuan organisasi yang sulit mencapainya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian motivasi sebagai konsep manajemen dalam kaitannya dengan kehidupan organisasi dan kepemimpinan adalah dorongan kerja yangtimbul pada diri seseorang untuk berprilaku dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Dari batasan pengertian di atas motivasi mengandung 3 (tiga) hal yaitu: Pemberian motivasi berkaitan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan sasaran organisasi.

Proses keterkaitan usaha antara usaha dan pemuasan kebutuhan:

 

(1)  Kebutuhan Fisiologis. Ini adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.

(2)  Kebutuhan Keamanan. Ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran keamanan mereka kebutuhan kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak aman dan perlu aman.

(3)  Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan. Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.

(4)  Kebutuhan Esteem. Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.

(5)  Kebutuhan Aktualisasi Diri. Ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis.” Kebutuhan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri.


D.        Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut di atas maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian ini sebagai berikut:

1.   Diduga ada Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dapat meningkatkan Kerja Guru

2.   Diduga Komunikasi Interpersonal Dapat Meningkatkan Motivasi Kerja Guru

Secara bersama-sama diduga Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Komunikasi Interpersonal dapat meningkatkan Motivasi Kerja Guru.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A.        Identifikasi Variabel

Variabel yang dikemukan di dalam penelitian ini adalah variabel independen dan variabel dependen yang masing-masing adalah sebagai berikut:

1.   Variabel independen adalah Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Komunikasi Interpersonal

2.   Variabel dependent adalah Motivasi Kerja Guru.

Dari ketiga variabel tersebut di atas dilihat hubungan parsialnya dengan variabel terikat, dan juga dari ketiga variabel tersebut di atas dilihat pengaruh simultanya terhadap variabel terikatnya.

B.        Definisi Operasional Variabel

Seperti dikemukakan dalam buku analysis Educational Research, bahwa definisi operasional secara umum dipergunakan dalam penelitian karena hal ini dapat mengarahkan agar pengukuran yang dilakukan dapat mendekati ketepatannya dan juga dapat membantu para peneliti dalam menganalisa hubungan antara dua variabel atau lebih secara sistematik. Adapun definisi operasional penelitian ini sebagai berikut:

1.   Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah adalah dominasi didasari kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atu mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu, berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah semacam ini pada intinya bersifat informal dan selalu berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok pada saat khusus dan tempat khusus untuk mencapai tujuan tertentu.

2.   Komunikasi Interpersonal

Komunikasi dapat diartikan sebagai proses pemindahan suatu informasi, ide, pengertian dari seseorang kepada orang lain dengan harapan orang lain tersebut dapat menginterpretasikannya sesuatu dengan tujuan yang dimaksud.

3.   Motivasi Kerja Guru

Motivasi dimaksudkan untuk memberikan dorongan dan usaha untuk mencapai pemuasan keinginan dan sasaran. Pemuasan dimaksudkan untuk merasakan kesenangan atau kebahagiaan apabila suatu keinginan telah dapat dipuaskan.

C.        Populasi

Populasi menurut Sugiyono (2003: 57), menyatakan bahwa: Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas ; obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam hal ini jumlah populasi yang ada di SMP Negeri Leuwimunding III Kabupaten Majalengka yang menjadi obyek penelitian adalah guru

D.        Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

Penelitian ini membutuhkan beberapa sampel, sebetulnya tidak ada ketentuan seberapa banyak sampel yang harus diambil, sehingga dapat dikatakan bahwa sampel tersebut dapat mewakili populasi, hal ini menurut pendapat Sutrisno Hadi (1983) dalam bukunya “Metodologi Research” sebagai berikut: Sebenarnya tidaklah ada suatu ketetapan yang mutlak berapa persen suatu sampel harus diambil dari populasi yang ada.

Guna menetapkan ukuran atau jumlah sampel penulis menggunakan teori atau pendapat Suharsimi Arikunto, (2005: 95) mengemukakan bahwa: “Sebagai ancer-ancer, jika peneliti mempunyai beberapa ratus subjek dalam populasi mereka dapat menggunakan kurang lebih 25- 30% dari jumlah tersebut, jika anggota subjek dalam populasi hanya meliputi antara 100 hingga 150 orang, dan dalam pengumpulan data peneliti menggunakan angket, sebaiknya subjek dalam populasi diambil seluruhnya. Akan tetapi apabila peneliti menggunakan teknik wawandara (interview) atau pengambilan (observasi), jumlah tersebut dapat dikurangi menurut teknik pengambilan sample sesuai dengan kemampuan peneliti”.

Jadi teknik pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik penelitian sistem total sampel. Dalam hal ini jumlah populasi yang ada di SD Negeri Leuwimunding III Kabupaten Majalengka yang menjadi obyek penelitian adalah guru dan sebagian wali murid. Mengacu kepada Gay yang menyatakan bahwa metode korelasi ukuran sampel minimal 30 subyek. Maka penelitian ini penulis menggunakan sampel 100% dari jumlah pegawai yang ada di SD Negeri Leuwimunding III Kabupaten Majalengka sebanyak 9 Orang Guru.


 

E.        Sumber dan Jenis Data

1.   Data Primer

Data yang didapatkan dari SD Negeri Leuwimunding III Kabupaten Majalengka secara langsung (internal organisasi) yang mana data tersebut telah tersedia dan diolah kembali. Seperti: tugas pokok dan fungsi guru, jumlah guru, dan lain sebagainya.

2.   Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari obyek penelitian. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data internal dan eksternal, diperoleh dari buku-buku literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini.

F.         Prosedur dan Teknik Pengumpulan Data

Sedangkan prosedur dan teknik dalam pengumpulan data ini, penulis menggunakan dua macam pendekatan yaitu:

1.   Metode Riset Kepustakaan (Library Research Method). Dilakukan dengan membaca catatan-catatan kuliah dan beberapa literatur lainnya yang berhubungan dengan permasalahan yang akan penulis diteliti.

2.   Metode Riset Lapangan (Field Research Method). Pendekatan ini dilaksanakan dengan mengadakan pengamatan langsung di lapangan, sehingga diperoleh data-data yang diperlukan sebagai bahan penyusunan Karya Tulis atau tesis ini.

Adapun cara yang dilakukan adalah dengan mengadakan wawancara dan membagikan angket/Kuesioner.

a) Wawancara

Wawancara dilakukan tanya jawab secara langsung kepada Kepala sekolah dan guru maupun wali murid di SMP Negeri 1 Leuwimunding Kabupaten Majalengka untuk memperoleh keterangan-keterangan tentang bagaimana hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolahdan Komunikasi Interpersonal dengan produktivitas.

b) Kuesioner/Angket

Kuesioner (Angket) diberikan kepada responden yaitu pegawai di SD Negeri Leuwimunding III Kabupaten Majalengka mengenai bagaimana sikap mereka terhadap pernyataan-pernyataan yang menyangkut Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolahdan Komunikasi Interpersonal terhadap Motivasi Kerja Guru.

Bentuk kuesioner diberikan kepada responden dengan tujuan agar responden dalam memberikan jawaban sesuai dengan tema sentral penilaian ini. Selanjutnya kuesioner diberikan bobot sesuai dengan tingkat kepentingan model skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dalam penelitian gejala sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.

PTS GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAPAT MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA GURU

Teori Inquiri 02

A.    Model Pembelajaran Inkuiri
1.    Pengertian Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pernyataan ilmiah yang diajukannya. Dengan kata lain inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis, (Amri dan Ahmadi 2010: 85). sejalan dengan itu menurut Gulo ( dalam Trianto: 166) menyatakan inkuiri dalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Menurut Amri dan Ahmadi (2010: 89) menjelaskan dua tingkatan inkuiri berdasarkan variasi bentuk keterlibatannya dan intensitas keterlibatan siswa yaitu; (1) inkuiri tingkat pertama, inkuiri tipe ini tergolong kategori inkuiri terbimbing (Guided Inguiry) karena siswa dibimbing secara hati-hati untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapkan kepadanya. (2) inkuiri bebas, siswa difasilitasi untuk dapat mengindentifikasi masalah dan merancang proses penyelidikan,
Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran dimana siswa diarahkan untuk mendapatkan suatu kesimpulan dari serangkaian aktivitas yang dilakukan sehingga siswa seolah-olah menemukan sendiri pengetahuan tersebut. (Asy’ari, 2006: 51). Sebagai strategi pembelajaran inkuiri dapat diimplementasikan secara terpadu dengan strategi lain sehingga dapat membantu pengembangan pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan melakukan kegiatan inkuiri oleh siswa.
Menurut Amri dan Ahmadi (2010: 89) menyatakan ada beberapa karakteristik dari Inkuiri Terbimbing yang perlu diperhatikan yaitu;
1.    Siswa mengembangkan kemampuan berpikir melalui observasi spesifik hingga membuat inferensi atau generalisasi;
2.    Sasarannya adalah mempelajari proses megamati kejadian atau objek kemudian menyusun generalisasi yang sesuai;
3.    Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran misalnya kejadian, data, materi, dan berperan sebagai pemimpin kelas;
4.    Tiap-tiap siswa berusaha untuk membangun pola yang bermakna berdasarkan hasil observasi di dalam kelas;
5.    Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran,
6.    Biasanya sejumlah generalisasi tertentu akan diperoleh dari siswa;
7.    Guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan hasil generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa dalam kelas.
Tujuan utama pembelajaran berbasis inkuiri menurut National Research Council (2000) dalam Amri dan Ahmadi (2010: 89) adalah; (1). mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan konsep sains (2) mengembangkan keterampilan ilmiah siswa sehingga mampu bekerja seperti layaknya seorang ilmuwan; (3). membiasakan siswa bekerja keras untuk memperoleh pengetahuan.
1.    Langkah-Langkah Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)
Pada penelitian ini langkah-langkah pembelajaran inkuiri terbimbing mengadopsi tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak (1996) sebagai berikut :
NO.
Fase
Perilaku guru
1.
Menyajikan pertanyaan atau masalah
Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan tulis
2.
Membuat hipotesis
Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.
3.
Merancang percobaan
guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan.
4.
Melakukan percobaan untuk memperoleh informasi
Guru membimbing siswa untuk mendapatkan informasi melalui percobaan.
5.
Mengumpulkan dan menganalisis data
Guru memberikan kesempatan pada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
6.
Membuat kesimpulan
Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan
Enam langkah pada inkuiri terbimbing ini mempunyai peranan yang  sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Para siswa akan berperan aktif melatih keberanian, berkomunikasi dan berusaha mendapatkan pengetahuannya sendiri untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
2.    Keunggulan Model Pembelajaran Inkuiri
Dalam inkuiri, siswa dimotivasi untuk terlibat langsung atau berperan aktif secara fisik maupun mental dalam kegiatan pembelajaran. Lingkungan kelas dimana siswa aktif terlibat dan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran sangat membantu dalam mencapai tujuan belajar (Mestre dan Cocking (2000) dalam Ibrahim (http://kpicenter. web.id/neo/ content/view, 2011/01/12).
Menurut Nurhadi (2004) dalam Ibrahim (http://kpicenter. web.id/neo/ content/view, 2011/01/12) inkuiri merupakan salah satu komponen penting dari pendekatan kontekstual dan konstruktivistik yang telah berkembang pesat dalam proses pembaharuan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Kegiatan belajar melalui inkuiri menghadapkan siswa pada pengalaman kongkrit sehingga siswa belajar secara aktif dimana mereka didorong untuk mengambil inisiatif dalam usaha memecahkan masalah, mengambil keputusan dan mengembangkan keterampilan meneliti serta melatih siswa menjadi pelajar sepanjang hayat.
3.    Kekurangan Model Inkuiri Terbimbing

Kelemahan inkuiri menurut Suryobroto (2002:201) adalah sebagai berikut. (1) dipersyaratkan keharusan ada persiapan mental untuk cara belajar ini. (2) pembelajaran ini kurang berhasil dalam kelas besar, misalnya sebagian waktu hilang karena membantu siswa menemukan teori-teori atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu, (3) harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pembelajaran secara tradisional jika guru tidak menguasai pembelajaran inkuiri

Teori Inquiri 01

Model Pembelajaran Inkuiri

Sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang alam sekitar di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera penglihatan, pendengaran, pengecapan dan indera-indera lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. Didasari hal inilah suatu strategi pembelajaran yang dikenal dengan inkuiri dikembangkan.

Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Ia menambahkan bahwa pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu.

Selanjutnya Sanjaya (2008;196) menyatakan bahwa  ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri. Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya pendekatan inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Artinya dalam pendekatan inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktvitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa, sehingga kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental, akibatnya dalam pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.

Sanjaya (2008:202) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

A. Orientasi

Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:

  • Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
  • Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan
  • Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.

B. Merumuskan masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

C. Merumuskan hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.

D. Mengumpulkan data

Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

E. Menguji hipotesis

Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

F. Merumuskan kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

Alasan rasional penggunaan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai matematika dan akan lebih tertarik terhadap matematika jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” penyelidikan. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep matematika dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Sehingga diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berpikir ilmiah tersebut.

Pembelajaran dengan pendekatan  inkuiri yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap pelajaran matematika, khususnya kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis siswa. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri merupakan pendekatan  pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar, peranan guru dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi.

Dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas, guru mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan dan teman yang kritis. Guru harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok melalui tiga tahap: (1) Tahap problem solving atau tugas; (2) Tahap pengelolaan kelompok; (3) Tahap pemahaman secara individual, dan pada saat yang sama guru sebagai instruktur harus dapat memberikan kemudahan bagi kerja kelompok, melakukan intervensi dalam kelompok dan mengelola kegiatan pengajaran.

Pendekatan inkuiri terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Ketiga jenis pendekatan inkuiri tersebut adalah:

1. Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)

Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.

Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding yang diperlukan oleh siswa.

2. Inkuiri Bebas (free inquiry approach).

Pada umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.

Selama proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang diselidiki.

Sedangkan belajar dengan metode ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain: 1) waktu yang diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu yang sudah ditetapkan dalam kurikulum, 2) karena diberi kebebasan untuk menentukan sendiri permasalahan yang diselidiki, ada kemungkinan topik yang diplih oleh siswa di luar konteks yang ada dalam kurikulum, 3) ada kemungkinan setiap kelompok atau individual mempunyai topik berbeda, sehingga guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh siswa, 4) karena topik yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh kelompok atau individual tertentu, sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

3. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan ( modified free inquiry approach)

Pendekatan ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan pendekatan ini menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.

Dalam pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.

Berdasarkan pengertian dan uraian dari ketiga jenis pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, penulis memilih Pendekatan Inkuiri Terbimbing yang akan digunakan dalam penelitian ini. Pemilihan ini penulis lakukan dengan pertimbangan bahwa penelitian yang akan dilakukan terhadap siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana tingkat perkembangan kognitif siswa masih pada tahap peralihan dari operasi konkrit ke operasi formal, dan siswa masih belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri serta karena siswa masih dalam taraf belajar proses ilmiah, sehingga penulis beranggapan pendekatan inkuiri terbimbing lebih cocok untuk diterapkan.

Selain itu, penulis berpendapat bahwa pendekatan inkuiri bebas kurang sesuai diterapkan dalam pembelajaran matematika, karena dalam proses pembelajaran matematika topik yang diajarkan sudah ditetapkan dalam silabus kurikulum matematika, sehingga siswa tidak perlu mencari atau menetapkan sendiri permasalahan yang akan dipelajari.

DAFTAR PUSTAKA

Cochran, Rachel et al.(2007). The impact of Inqury-Based Mathematics on Context Knowledge and Classroom Practice. Journal. Tersedia: http://www.rume.org/crume2007/papers/cochran-mayer-mullins.pdf

Krismanto, M.Sc. (2003). Beberapa Teknik, Model dan Strategi dalam Pembelajaran Matematika. PPPG Matematika. Yogyakarta.

Sanjaya, Wina. Dr. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta

Slavin, Robert.E. (2008). Cooperative Learning; Teori, Riset dan Praktik. Bandung. PT. Nusa Media

Tim MKPBM. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung. JICA

Taon Baru dan Sholat Subuh

Kali ini gue bangun agak siang, sekitar 05.10 pagi. Dunia sudah mulai terang terlihat, tidak seperti malam yang dicahayai oleh sinar matahari yang dipantulkan ke bulan. Akh, apa yang akan aku lakukan? Sholat, ya karena tidur bagian dari lalai. Semalam pun aku ga ngikutin kebanyak manusia dengan bersorai menyambut taon baru. Aku hanya menggoreskan pena di atas buku, berpikir dan menuangkan apa yang ingin aku deskrispsikan melalui kata-kata, lalu aku tertidur karena lelah. Insya Alloh, sholatkku masih dikatakan sah.

Tapi apa bener ya? Yuk kita lihat beberapa petunjuk dari narasumber terpercaya kita, yaitu al-Qur’an dan Hadits, kemudian atsar para sahabat dan beberapa pendapat ulama salaf.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّهُ لَيْسَ فِى النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِىءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الأُخْرَى فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا فَإِذَا كَانَ الْغَدُ فَلْيُصَلِّهَا عِنْدَ وَقْتِهَا

Jika seseorang ketiduran, itu bukanlah berarti ia lalai dari shalat. Yang disebut lalai adalah jika seseorang tidak mengerjakan shalat hingga datang waktu shalat berikutnya. Jika ketiduran, hendaklah seseorang shalat ketika ia terbangun. Jika tiba esok hari, hendaklah ia shalat tepat pada waktunya (jangan sampai telat lagi).” (HR. Muslim no. 681).

Hadits di atas, jangan dibaca sekali dua kali aje, terlebih cuma memahami sekilas. Dari beberapa pendapat yang aku kumpulkan, hadits tersebut menunjukkan bahwa tidur merupakan salah satu uzur syar’i dari ketetapan hukum yang berlaku. Dalam hal ini sholat, sholat itu sendiri syarat sahnya adalah telah ditetapkan waktu-waktunya. Bila kita melakukan sholat di luar waktu yang ditetapkan maka sholat kita tidak sah, kecuali ada uzur (alasan) yang menguatkan. Seperti tidur itu, atau sedang safar (sholat jamak dan qashar).

Berkaitan dengan kasusku ini, Komisi Fatwa Saudi Arabia, Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ pernah ditanya sebagai berikut:

  1. Pertanyaan pertama: Ada seseorang mengerjakan shalat shubuh setelah matahari terbit dan ini sudah jadi kebiasaannya setiap paginya dan hal ini sudah berlangsung selama dua tahun. Dia mengaku bahwa tidur telah mengalahkannya karena dia sering lembur. Dia mengisi waktu malamnya dengan menikmati hiburan-hiburan. Apakah sah shalat yang dilakukan oleh orang semacam ini? 
  2. Pertanyaan kedua: Apakah boleh kita bermajelis dan tinggal satu atap dengan orang semacam ini? Kami sudah menasehatinya namun dia tidak menghiraukan.

Jawab:

Diharamkan bagi seseorang mengakhirkan shalat sampai ke luar waktunya. Wajib bagi setiap muslim yang telah dibebani syari’at untuk menjaga shalat di waktunya –termasuk shalat shubuh dan shalat yang lainnya-. Dia bisa menjadikan alat-alat pengingat (seperti alarm)  untuk membangunkannya (di waktu shubuh).

Kita diharamkan lembur di malam hari untuk menikmati hiburan dan semacam itu. Lembur (begadang) di malam hari telah Allah haramkan bagi kita jika hal ini melalaikan dari mengerjakan shalat shubuh di waktunya atau melalaikan dari shalat shubuh secara jama’ah. Hal ini terlarang karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang begadang setelah waktu Isya’ jika tidak ada manfaat syar’i sama sekali.

(Perlu diketahui pula bahwa) setiap amalan yang dapat menyebabkan kita mengakhirkan shalat dari waktunya, maka amalan tersebut haram untuk dilakukan kecuali jika amalan tersebut dikecualikan oleh syari’at yang mulia ini.

Jika memang keadaan orang yang engkau sebutkan tadi adalah seperti itu, maka nasehatilah dia. Jika dia tidak menghiraukan, tinggalkan dan jauhilah dia. {Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, no. 8371, 69/90. Yang menandatangani fatwa ini adalah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi sebagai wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota}

Dari dua kasus di atas, simpulannya apa, ya? Simpulkan sendiri aja ya! Wallahu a’lam.

Yang pasti, awal tahun baru aku bisa terinspirasi membuat sesuatu. Ternyata dari kejadian diri sendiri begitu banyak yang bisa kita inspirasikan untuk menjadi bahan tulisan. Setidaknya, ini bisa jadi langkah awal, mencari masalah dan problem pecahannya. Kalo dikumpulkan, bisa jadi buku! Kita lihat ke depannye gimane…???